Bertukar Nomor HP, Trump Kacaukan Norma Diplomatik Pemimpin Negara

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Trump dan telepon genggamnya (Foto: Matt Rourke/AP)
zoom-in-whitePerbesar
Trump dan telepon genggamnya (Foto: Matt Rourke/AP)

Menjadi kepala negara membuat seseorang merasa di atas angin setelah mendapat kekuasaan yang lebih kuat dari warga biasa. Namun di saat yang bersamaan ada beberapa keterbatasan yang harus membelenggu. Salah satunya adalah komunikasi yang tidak leluasa.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, agaknya harus mulai terbiasa dengan posisinya sebagai presiden. Dalam beberapa kesempatan pertemuan dengan pemimpin negara sahabat, Trump berinisiatif memberikan nomor telepon pribadinya. Trump bermaksud baik untuk lebih mendekatkan komunikasi antara pemimpin negara jika sewaktu-waktu ingin menghubunginya dan butuh jalur komunikasi yang mudah.

Akan tetapi apa yang dilakukan Trump justru membuat posisinya dalam bahaya. Selama ini komunikasi pemimpin negara ditempuh dengan protokol diplomatik yang dijalankan dengan sistem keamanan yang ketat. Pemberian nomor pribadi justru membuat keamanan dan kerahasiaan dalam bahaya.

Justin Trudeau dan Donald Trump di Gedung Putih. (Foto: Carlos Barria/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Justin Trudeau dan Donald Trump di Gedung Putih. (Foto: Carlos Barria/Reuters)

Saling tukar telepon ini terungkap lewat informasi dari pejabat ring satu Gedung Putih. Diberitakan Independent, Presiden AS menawarkan nomornya ketika bertemu Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Presiden Meksiko Enrico Pena Nieto. Tawaran serupa juga disodorkan kepada Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Namun hanya Trudeau yang menerima nomor pribadi Trump tersebut.

Saling menghubungi lewat telepon seluler merupakan hal yang tidak biasa. Di dunia diplomasi, hubungan antar kepala negara diatur dengan ketat. Presiden harus patuh kepada protokol atas alasan keamanan.

Para presiden berkomunikasi lewat telepon yang dilapisi beberapa jaringan keamanan dan birokrasi berlapis. Sebuah telepon terpasang di kantor kepresidenan dan mobil pribadi. Lapisan keamanan semacam itu bahkan tidak menjamin keamanan komunikasi presiden. "Jika anda berbicara di saluran terbuka seperti telepon seluler, artinya para operator akan sangat mudah memonitor percakapan," ujar Derek Chollet, mantan penasehat Pentagon.

Chollet kemudian melanjutkan, "Seorang presiden yang tidak membawa telepon yang aman, makan siapapun dengan mudah memata-matai percakapan anda,"

Pengamat lainnya yaitu Ashley Deeks berujar bahwa presiden negara lain bisa saja memberikan nomornya kepada lembaga intelijen mereka. "Jika anda adalah Macron atau pemimpin negara lain, anda punya sesuatu yang berharga berupa nomor telepon sebagai masukan untuk operasi intelijen negara Anda," sebut profesor dari University of Virginia.

Pembobolan percakapan kepala negara lewat telepon pernah terungkap pada 2013. Dalam laporan Enward Snowden menyebut AS menyadap telepon genggam Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Penyadapan Merkel membuktikan bahwa tidak peduli hubungan antar negara baik atau tidak, setiap negara memiliki ambisi untuk menyadap satu sama lain. Sehingga, jamak jika telepon antar pemimpin negara memiliki infrastruktur yang bisa menjamin keamanan. Dalam satu kali percakapan, masing-masing staf keamanan biasanya melakukan perekaman terhadap perbincangan.