Betapa Susahnya Memberantas Kartel Narkoba di Meksiko

13 Januari 2023 15:11 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Seorang tentara berjalan di dekat kendaraan yang terbakar, setelah penahanan pemimpin geng narkoba Meksiko Ovidio Guzman, putra El Chapo, di Culiacan, Meksiko, Kamis (5/1/2023). Foto: Stringer/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang tentara berjalan di dekat kendaraan yang terbakar, setelah penahanan pemimpin geng narkoba Meksiko Ovidio Guzman, putra El Chapo, di Culiacan, Meksiko, Kamis (5/1/2023). Foto: Stringer/REUTERS
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Perang terhadap kartel narkoba di Meksiko sudah dimulai sejak 2006. Kala itu, Presiden Felipe Calderon mengobarkan misi bernama Operasi Michoacan. Operasi senilai USD 1,5 miliar itu bertujuan untuk menangkap gembong-gembong narkoba yang semakin terorganisir sejak tahun 1990-an.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data Journal of International Affairs berjudul ‘Calderón’s War’, Amerika Serikat (AS) turut menyumbang USD 1 miliar untuk operasi tersebut. AS memang punya kepentingan lantaran mayoritas narkoba dari Meksiko diedarkan di negaranya.
Kala itu, berbagai kerusuhan sudah menyeruak ke hampir seluruh wilayah Meksiko. Kota-kota yang sebelumnya punya kehidupan normal, berubah menjadi kota dengan tingkat kekerasan tinggi. Hal ini tak lepas dari tingginya perang antar-kartel di negara tersebut. Mereka saling memperebutkan wilayah dan pengaruhnya.
Kartel Sinaloa, misalnya, bisa memperoleh keuntungan mencapai USD 3 Miliar setiap tahunnya. Bisnis yang besar itu pun membuat kartel-kartel ini tak segan menyewa penegak hukum swasta untuk melindungi pangsa pasar mereka.
Beberapa di antaranya juga membangun hubungan khusus dengan geng-geng jalanan. Itu dilakukan untuk memastikan distribusi obat-obatan mereka berjalan dengan stabil.
ADVERTISEMENT
Nah, Operasi Michoacan dilakukan untuk menumpas peredaran narkoba di negara bagian Michoacan. Wilayah itu dipilih lantaran dianggap sebagai paling rawan. Menumpas kartel narkoba di sana pun dinilai dapat menghentikan kekerasan yang dilakukan para bandit. Pemerintah pun mengirimkan 6.500 personel ke wilayah itu.
Berdasarkan laporan Amnesty International (2015), ada 200 ribu orang yang tewas dalam operasi tersebut, Sementara 28 ribu orang lainnya dinyatakan menghilang. Operasi itu pun berhasil menangkap 25 dari 37 orang bos kartel yang paling dicari di Meksiko.
Persoalannya, para gembong narkoba ini tak tinggal diam. Mereka yang tercerai berai bahkan mendirikan kartel baru bernama Los Zetas. Pada tahun 2011, kartel ini bahkan membantai 193 buruh migran yang dikenal sebagai San Fernando Massacre. Usai kejadian itu, rakyat Meksiko melancarkan protes besar-besaran dan mengincar anggota Los Zetas di mana saja.
ADVERTISEMENT
Berikut ini adalah lima kartel narkoba di Meksiko yang paling besar.
Kemenangan terbesar pemerintah Meksiko adalah ketika sukses menangkap Joaquín 'El Chapo' Guzmán. Dia adalah pemimpin utama kartel Sinaloa. Guzman sendiri sebetulnya sudah tiga kali ditangkap pada tahun 2011, 2014, dan 2015. Namun ia selalu berhasil melarikan diri. Salah satunya dengan cara menyuap sipir hingga kabur melalui terowongan
Gembong narkoba Joaquin "El Chapo" Guzman. Foto: AFP/ALFREDO ESTRELLA
Pada 2016, Guzman akhirnya tidak lagi bisa berkutik setelah diekstradisi ke AS. Ia lalu divonis penjara seumur hidup di Pengadilan Brooklyn, New York, AS. Kini El Chapo ditahan di penjara federal dengan tingkat pengamanan maksimum ADX di Negara Bagian Colorado. Saking ketatnya penjagaan, penjara itu dijuluki 'Alcatraz di pegunungan'.
ADVERTISEMENT
El Chapo sendiri memang bukan orang sembarangan. Majalah Forbes menyebutnya sebagai ‘Raja Narkoba Terbesar Sepanjang Zaman’. Ia juga masuk dalam daftar 100 tokoh paling berkuasa di dunia, serta masuk menjadi orang terkaya ke-10 di Meksiko pada tahun 2011.
Pada 2019, otoritas Meksiko berhasil menangkap anak El Chapo yaitu Ovidio Guzman-Lopez alias El Rato. Kala itu, baku tembak antara pasukan keamanan dan anggota kartel berlangsung sengit.
Menurut laporan AP, Sebanyak delapan orang tewas dan lebih dari 20 lainnya mengalami luka-luka. Konfrontasi bersenjata yang terjadi ketika penangkapan Ovidio pada 2019 lalu dikenal sebagai Pertempuran Culiacan atau El Culiacanazo.
Bentrokan ini melumpuhkan ibu kota negara bagian Sinaloa, Culiacan. Di sepanjang jalan juga dipenuhi dengan kendaraan yang terbakar.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, Ovidio akhirnya dilepaskan lantaran pasukan keamanan kalah dengan kartel. Presiden Manuel Lopez Obrador menyebut penangkapan satu penjahat tak bisa lebih berharga daripada nyawa banyak orang.
Ovidio Guzman ditahan di Culiacan pada 17 Oktober 2019. Foto: CEPROPIE/AP
Pada 5 Januari 2023 lalu, sekitar pukul 02:30 dini hari waktu setempat, pasukan Meksiko menggelar operasi penggerebekan besar-besaran di desa Jesus Maria, 191 km barat laut ibu kota negara bagian Sinaloa, Culiacan. Operasi ini pun berhasil dan El Rato tertangkap.
Penangkapan Ovidio itu menyebabkan pertempuran di Culiacan. Anggota kartel narkoba menyerang para aparat, membajak kendaraan penduduk, melakukan pembakaran, hingga menembaki helikopter. Sebanyak 29 orang tewas di hari yang sama usai penangkapan Ovidio.
Sedianya, Ovidio akan diekstradisi ke AS. Namun hakim federal masih menangguhkannya lantaran tak ingin ada korban lagi berjatuhan.
ADVERTISEMENT
Kartel Sinaloa sendiri dikenal tak segan untuk membunuh orang dengan cara yang brutal. Mereka tak segan membunuh korbannya dengan cara menyiksa hingga menggantung mayat korbanya di tempat-tempat publik.
Berdasarkan laporan dari National Drug Threat Assessment yang dipublikasikan oleh U.S Department of Justice, wilayah Meksiko telah membudidayakan jenis narkoba opium lebih dari 30.000 hektar setiap tahunnya. Bahkan, di tahun 2017, luas budidaya opium mencapai 44.100 hektar.