Between Two Gates Yogya Ditutup Sementara, Etika Wisatawan Disorot
ยทwaktu baca 3 menit

Pintu wisata heritage Between Two Gates di Kampung Alun-alun, Kotagede, Kota Yogyakarta ditutup sementara untuk wisatawan. Hal ini karena munculnya wisatawan yang tak beretika dan mengganggu kenyamanan warga kampung.
Between Two Gates adalah kompleks permukiman dengan arsitektur tradisional Jawa. Berada di gang kecil permukiman ini diapit oleh dua gerbang kayu kuno atau regol di kedua ujungnya.
"Hari Minggu, ya, kalau enggak salah, itu 31 Mei. Pas suasana kan masih long weekend itu, memang banyak orang berkunjung ke Between Two Gates. Nggih. Terus kemudian Minggu pagi itu jam 07.00 WIB tiba-tiba itu ada rombongan ceritanya kemarin sih katanya dari Jakarta sih, dua bus," kata pengelola kawasan Between Two Gates, Joko Nugroho, saat dihubungi, Sabtu (6/6).
Dua bus itu satu berukuran besar satu sedang. Rombongan sekitar 70-80 orang datang pagi-pagi tanpa ada pemberitahuan, langsung masuk.
"Suasana jadi enggak nyaman," katanya.
Padahal Between Two Gates merupakan kawasan hunian bukan kawasan publik. Jika ada wisatawan dalam jumlah besar maka harus koordinasi terlebih dahulu dengan pengelola.
Kondisi saat itu berisik. Tak jarang menurut Joko, banyak wisatawan yang tak menjaga etika ketika berkunjung di situ.
Alhasil warga memutuskan untuk menutup sementara lokasi tersebut untuk wisatawan.
"Karena itu memang milik warga ini, milik pribadi yang konsepnya itu rukunan. Itu sebenarnya bukan gang ataupun jalan, tapi itu halaman rumah-rumah masing-masing," katanya.
Kawasan Pribadi yang Jadi Spot Konten
Joko mengatakan Between Two Gates yang merupakan kawasan pribadi, dari dulu memperbolehkan orang untuk melintas.
Seiring perkembangan zaman, banyak orang yang mengambil foto ketika melintas. Lantaran dinilai menarik, banyak orang kemudian berdatangan untuk mengambil foto hingga video di sana.
"Terjadi persoalan, kemacetan, dan sebagainya, kemudian ya lain-lain dan itu membuat warga itu juga menjadi tidak nyaman kan," katanya.
"Banyak yang dari mereka itu etikanya itu yang sangat kurang. Misalnya ada warga, ada pemilik rumah, permisi aja enggak, kemudian foto-foto di situ tanpa izin," katanya.
Saat ini warga tengah menggodok formula agar kawasan ini bisa dinikmati kalangan luas tanpa mengganggu kenyamanan para penghuni.
Sebelumnya sudah ada pula tulisan agar pengunjung menjaga etika. Namun tulisan itu tampaknya tak selalu diindahkan.
"Kita rembug itu, misalnya nanti seperti apa aturan mainnya, kemudian bagaimana antisipasi, terutama yang pengunjung-pengunjung atau orang yang datang itu yang tanpa pemberitahuan itu," katanya.
Dikutip dari Dinas Kebudayaan DIY nama Between Two Gates diberikan oleh Tim Peneliti dari jurusan Teknik Arsitektur UGM pada tahun 1986.
Dalam bahasa Indonesia diartikan "Di Antara Dua Gerbang" Bentuk dan tata ruang dari rumah-rumah tradisional Jawa yang terdapat di Between Two Gates ini tetap dipertahankan keasliannya hingga saat ini dan menjadi bagian dari museum hidup Kotagede.
