BGN Bentuk Tim Khusus Investigasi Dugaan Keracunan MBG

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapolres Banggai Kepulauan AKBP Ronaldus Karurukan meninjau siswa yang diduga  mengalami keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Salakan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulteng, Rabu (17/9/2025. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Kapolres Banggai Kepulauan AKBP Ronaldus Karurukan meninjau siswa yang diduga mengalami keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Salakan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulteng, Rabu (17/9/2025. Foto: Dok. Istimewa

Badan Gizi Nasional (BGN) membentuk tim khusus untuk menginvestigasi kasus dugaan keracunan yang belakangan ramai dibicarakan publik.

Langkah ini disampaikan Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang, dalam konferensi pers di Kantor BGN, Senin (22/9).

“Selain itu saya juga diberikan tugas Pak Kepala untuk di bidang investigasi, investigasi ini berkait dengan yang ramai sekarang adalah kasus dugaan, saya sebut dugaan karena belum tentu semua yang bermasalah atau keracunan jadi saya akan membentuk tim investigasi untuk masalah hal yang diduga keracunan dan juga tim investigasi di bidang menu makanan atau dapur,” kata Nanik.

Nanik S Deyang (baju pink) bersalaman dengan Presiden Prabowo setelah dilantik sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) di Istana Negara, Rabu (17/9/2025). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Ia menegaskan, keberadaan tim investigasi ini diharapkan bisa menjadi second opinion sebelum hasil resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) keluar.

Menurutnya, proses investigasi akan mencakup penelusuran mulai dari bahan baku, proses memasak, hingga pemeriksaan sampel makanan yang disimpan.

“Insya Allah tim investigasi dalam minggu ini kita akan buat dan segera akan turun. Tim ini akan terdiri dari ahli kimia, farmasi, dan juga dari teman-teman yang mempunyai profesi di bidang kesehatan. Jadi ini untuk mempercepat temuan sambil menunggu BPOM, supaya masyarakat segera mendapatkan jawabannya,” ujar Nanik.

Nanik menekankan bahwa pihaknya tidak bisa langsung menyimpulkan seluruh kasus yang terjadi adalah keracunan. Ada faktor lain yang bisa menjadi penyebab, mulai dari alergi, kondisi kesehatan anak, hingga kesalahan teknis dalam distribusi makanan.

Konferensi Pers Badan Gizi Nasional di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Senin (22/9/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Sementara itu, Kepala BGN, Dadan, menambahkan bahwa risiko terbesar dari program Makan Bergizi Nasional (MBG) justru ada pada potensi gangguan pencernaan penerima manfaat.

“Kalau saya ditanya saya lebih takut yang kedua dibandingkan yang pertama, karena yang pertama (penyalahgunaan anggaran) kita membuat sistem yang sedemikian rupa sehingga sangat kecil mungkin terjadi. Tetapi kalau yang kedua ini memang rantainya cukup panjang,” jelas Dadan.

Menurut Dadan, kasus makanan basi atau keterlambatan distribusi bisa menjadi pemicu munculnya masalah pencernaan di lapangan.

“Hal-hal seperti itu memang membuat saya selalu deg-degan setiap hari. Oleh sebab itu kita tingkatkan betul kewaspadaannya dan alhamdulillah sekarang ada tambahan Waka yang bisa menggendel itu dan saya mulai agak tenang karena akan dibentuk tim investigasi,” tambahnya.

Ratusan pelajar di Garut, Jawa Barat mengalami gejala keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG). Foto: Istimewa

BGN menegaskan, investigasi ini bukan hanya berdasarkan laporan pihak luar, melainkan temuan langsung di lapangan.

Hasil kerja tim investigasi nantinya akan menjadi dasar untuk evaluasi dapur penyedia makanan maupun langkah perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.