BGN Larang Dapur MBG Pakai Produk Industri Besar

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Waka BGN Bidang Komunikasi Publik & Investigasi, Nanik S. Deyang (tengah), meminta maaf sambil menangis imbas kasus keracunan MBG. Foto: Haya Syahira/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Waka BGN Bidang Komunikasi Publik & Investigasi, Nanik S. Deyang (tengah), meminta maaf sambil menangis imbas kasus keracunan MBG. Foto: Haya Syahira/kumparan

Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi sistem penyediaan makanan bergizi (MBG) setelah insiden keracunan massal yang menimpa ribuan anak. Salah satu langkah penting adalah mengubah total pola pengadaan bahan baku.

Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, menyampaikan larangan penggunaan produk pabrikan di dapur MBG.

Menurutnya, kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar program MBG tidak hanya menyehatkan anak-anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat.

“Kami akan menjalankan instruksi presiden bahwa dapur MBG ini adalah untuk membangkitkan ekonomi lokal. Bukan untuk memperkaya konglomerat pemilik pabrik roti,” kata Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jumat (26/9).

Ilustrasi paket makanan MBG. Foto: Shutterstock

Nanik menjelaskan dapur MBG ke depan wajib memanfaatkan produk lokal, termasuk roti. Jika selama ini dapur-dapur kerap mengandalkan produk pabrikan, nantinya bahan tersebut akan diganti dengan hasil produksi masyarakat sekitar.

“Roti-roti yang dibuat oleh ibu-ibu murid-murid yang kami berikan makan, jadi roti itu nanti akan dibuat oleh ibunya dan rotinya akan dimakan anak-anaknya. Kami tidak akan mentolerir,” tegasnya.

Meski menutup pintu bagi produk pabrikan, Nanik menyebut ada satu pengecualian. Beberapa daerah tidak memiliki akses pada peternakan sapi perah, sehingga BGN tetap memperbolehkan susu kemasan sebagai substitusi sementara.

“Kecuali ada susu yang di mana di dapur itu memang tidak ada peternakan susu, maka terpaksa untuk sementara kami bolehkan untuk menggunakan susu kemasan. Tapi untuk produk lain kami tidak akan mentolerir,” jelasnya.