BGN Ungkap Pemicu Keracunan Massal MBG: 80% SPPG Tak Jalankan SOP

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan Nanik Sudaryati Deyang (kiri) tiba untuk mengikuti acara pelantikan Menteri dan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Dalam Sisa Masa Jabatan Periode Tahun 2024-2029 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan Nanik Sudaryati Deyang (kiri) tiba untuk mengikuti acara pelantikan Menteri dan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Dalam Sisa Masa Jabatan Periode Tahun 2024-2029 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi andalan Presiden Prabowo Subianto belakangan kembali menjadi sorotan setelah dilaporkan memicu kasus keracunan massal di Bandung Barat, Garut hingga Banggai.

Badan Gizi Nasional (BGN) menyoroti lemahnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam proses memasak.

Hal ini menjadi penyebab utama kasus keracunan massal yang menimpa siswa yang memperoleh program MBG.

Polres Banggai Kepulauan saat memasang police line di tempat SPPG atau rumah produksi makanan, Kamis (19/9/2025). Foto: Dok. Polres Banggai Kepulauan

Wakil Kepala BGN Nanik S. Deyang menyebut, hasil investigasi menunjukkan sebagian besar kasus terjadi akibat makanan yang diproduksi tidak mengikuti aturan waktu penyajian oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Banyak faktor, tetapi 80 persen dari investigasi kami karena tidak menjalankan SOP waktu memasak,” jelas Nanik saat dihubungi kumparan, Rabu (24/9).

Menurut Nanik, lamanya jeda antara makanan selesai dimasak dengan waktu konsumsi membuat risiko kontaminasi meningkat.

“Jadi rentang waktu bahan makanan selesai dimasak sampai dikonsumsi lebih dari 6 jam,” ujar Nanik.