Biaya 1 Billboard atau Baliho Puan 'Kepak Sayap Kebhinnekaan' Rp 12-15 Juta
·waktu baca 5 menit

Pemasangan billboard dan baliho Ketua DPR RI Puan Maharani di beberapa daerah menjadi perbincangan masyarakat. Billboard dan baliho itu memuat foto Puan dan bertuliskan 'Kepak Sayap Kebhinekaan'.
Belakangan terungkap di antara pengusaha jasa penyedia iklan yang mendapat orderan ini adalah Gage Design yang bermarkas di Solo. Bahkan, Gage Design tak hanya mengerjakan order di Solo dan Jawa Tengah saja, tetapi sampai ke luar Jawa.
Pemilik Gage Design, Bambang Nugroho, mengatakan pemasangan billboard dan baliho Puan Maharani ini telah membawa keuntungan yang cukup besar dalam industri advertising.
Menurutnya, omzetnya tak hanya membuat perusahaannya mampu bertahan di masa pandemi COVID-19 tapi juga bisa memberikan bonus atau tambahan pemasukan kepada para pekerjanya.
"Selain bisa membuat kami menjaga omzet dan team work tetap utuh, kami malah bisa memberi bonus kepada karyawan berkat billboard dan baliho Kepak Sayap Kebhinekaan,” kata Bambang dalam keterangannya, Senin (9/8).
Bambang menjelaskan, Gage Design terlibat dalam pemasangan billboard dan baliho Puan Maharani di 201 titik di Solo dan beberapa daerah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Aceh dan Sumatera Barat.
Harga satu billboard atau baliho berkisar antara Rp 12 sampai Rp 15 juta yang dipesan untuk jangka waktu dua bulan. Omzet Gage Design pun naik cukup signifikan.
“Alhamdulilah, omzet naik 200 persen. Rekor (pesanan) kami terbanyak dalam sejarah perusahaan justru saat pandemi berkat iklan Mbak Puan. Terima kasih Mbak Puan, engkau telah menyelamatkan kami,” kata Bambang.
Bambang mengaku, perusahaannya mendapat banyak orderan memasang papan iklan Puan hingga ke luar daerah Solo. Banyaknya pemesanan ini membuat Gage Design turut berbagi rezeki ke advertising agency lainnya.
“Alhamdulillah untuk kami sendiri banyak melibatkan kawan advertising. Yang kami koordinir ada 17-an (agency). Kalau masing-masing advertising dihitung minimal 15 pegawai, ya lumayan banyak periuk yang selamat. Itu belum yang di luar kami, termasuk pekerja teknis yang memasang pasti banyak yang mendapat manfaat. Saya kan hanya salah satu agency media planner,” ucapnya.
“Kebetulan kami ada asosiasi bersama sehingga kami bisa tahu betapa kawan-kawan di asosiasi maupun di luar asosiasi mendapat manfaat juga (dari pemasangan iklan Puan Maharani), sehingga tidak terdampak pengurangan akibat PPKM darurat,” ucap Bambang.
Dipesan Gibran dkk, Baliho Puan Dinilai Telah Selamatkan Nasib Pekerja Advertising
Sebelumnya, Billboard dan baliho Puan Maharani ini dipesan oleh para kader PDIP, termasuk kepala daerah dan anggota DPR RI, serta DPD PDIP di sejumlah daerah. Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka dan wakilnya, Teguh Prakosa juga ikut memesan pemasangan billboard Puan Maharani.
Pria yang akrab disapa Bambang Gage itu menuturkan, pemesanan baliho dan billboard Puan Maharani imi bisa mengubah nasib para pekerja di sektor periklanan media luar ruang.
Sebelum penerapan PPKM, agency advertising banyak yang tidak mendapat pesanan sehingga order iklan Puan Maharani ini menjadi angin segar bagi perusahaan seperti Gage Design di berbagai daerah.
“Dari mulai lockdown awal tahun 2020 beberapa kawan advertising tumbang di bulan ketiga sampai setahun karena dampak pengurangan belanja iklan media luar ruang, yang mengandalkan beberapa corporate perusahaan di Jakarta,” ujar Bambang.
Dampak pandemi COVID-19 begitu terasa terhadap industri periklanan luar ruang. Beberapa perusahaan memang masih ada yang bisa bertahan bagi yang melayani penjualan produk-produk ritel lokal. Namun tak sedikit yang akhirnya gulung tikar.
Segala upaya sudah dilakukan sektor industri periklanan agar tetap bisa berproduksi, seperti dengan cara memasuki marketplace untuk beberapa produk printing yang memungkinkan untuk bisa dijual. Bambang mengatakan, masalah ini perlu dilakukan agar perusahaan tetap bisa mempertahankan karyawan.
Hingga kemudian pada pertengahan 2021, Gage Design mendapat order pemasangan baliho dan billboard Puan Maharani di sejumlah titik. Bambang menyebut, dampak pemesanan ini sangat luar biasa untuk pihaknya, apalagi orderan masuk di saat kebijakan PPKM diberlakukan.
“Tentunya ini menjadi penguatan imun yang luar biasa dan kami berharap masih ada seri berikutnya sehingga pelaku industri kreatif advertising dan media luar ruang bisa bertahan hidup,” kata Bambang.
Bambang berharap tokoh-tokoh lain, baik di tingkat nasional dan daerah, bisa mengikuti jejak publikasi Puan Maharani. Dengan begitu, industri advertising akan semakin bergairah dan tidak lagi terpuruk.
“Semakin lama (pemasangan media luar ruang), semakin industri ekonomi kreatif bergairah dalam rangka pemulihan ekonomi nasional,” ungkapnya.
Fenomena pemasangan billboard dan baliho Puan Maharani ini mendapat berbagai respons dari berbagai kalangan, bahkan viral di media sosial. Ada yang menjadikannya meme, hingga muncul perdebatan di media massa dan media sosial.
Bambang mengaku kaget pekerjaannya telah menjadi perbincangan masyarakat. Meski begitu, ia memaklumi munculnya kritikan-kritikan dari sejumlah politisi mengenai pemasangan billboard dan baliho Puan Maharani.
“Mungkin mau pasang (billboard juga) tapi sudah habis lokasinya, jadi nggak dapat,” terang Bambang.
Terlepas dari adanya suara nyinyir mengenai pemasangan billboard dan baliho Puan Maharani, ia berharap masyarakat bisa melihat fenomena ini lebih jauh lagi. Jika dilihat dari kacamata pelaku industri ekonomi kreatif, kata Bambang, orderan iklan Puan Maharani merupakan anugerah.
“Mereka tidak merasakan seperti kami yang harus bertahan hidup dan menghidupi karyawan. Coba kalau mereka menjadi kami, pasti ikut bersyukur. Ibarat panas setahun dihapus hujan sehari. Monggo-monggo saja berpendapat, tapi saran saya santun lah bermedia, manfaatkan sarana media dengan bijaksana,” paparnya.
“Kalau terbiasa bicara baik Insyaallah rezekinya baik. Energi bisa kita manfaatkan untuk mencari ide gagasan yang kreatif dan inovatif, bagaimana rezeki tetap eksis di masa krisis, karena masih banyak peluang,” tutup Bambang.
