Bibit Samad: Bakal Caleg PSI Ditanya tentang Korupsi Malah Diam

Mantan Wakil Ketua KPK Bibit Samad Rianto menilai pengetahuan tentang korupsi para peserta seleksi caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI) masih minim.
"Dalam dua kali ini memang bagus, artinya kita bisa melihat calon-calon yang tertarik masuk PSI, hanya masalahnya tadi saya melihat pemahaman mereka tentang korupsi juga masih minim," kata Bibit usai menyeleksi kandidat caleg PSI di kantor DPP PSI, Jalan Wahid Hasyim, Tanah Abang, Jakarta Pusat., Minggu (12/11).
"Sehingga toh mereka semangat juangnya tinggi, mau diluluskan monggo, hanya pemahaman mereka tentang korupsi yang real di negeri ini itu diperdalam, itu diajarin mereka. Mungkin itu aja pesan saya," imbuhnya.
Bibit mengimbau kepada PSI untuk memberikan pelatihan kepada bakal caleg tersebut agar pemahaman mereka tentang korupsi lebih terbuka luas. Tujuannya agar para bakal caleg ini sewaktu menjadi anggota Dewan tidak terciduk oleh KPK.
"Beri pelatihanlah, ada pelatihan. Berikan pelatihan tentang korupsi ini begini, data memberantasnya begini, sekarang yang dilakukan begini, kelemahannya ini, kemudian untuk memperbaikinya ini," jelasnya.
"Oh iya ada pemahaman tentang undang-undang korupsi, ada yang bercerita ditanya tentang korupsi ada yang diam, padahal dia ke sini kan bicara tentang korupsi dan intoleransi," tambahnya.

Sewaktu melakukan seleksi kepada bakal caleg tersebut, Bibit mengatakan banyak yang diam ketika ditanya tentang korupsi. "Ditanya korupsi diam aja, korupsi itu apa, kamu pernah baca Undang-Undang Nomor 31 (tentang Tindak Pidana Korupsi) belum, diam juga, berarti kan kurang baca, lha itu harus karena bicara tentang menurut agama begini-begini, tapi menurut undang-undang kita korupsi apa, belum baca dia," sambungnya.
"Tolong itu diperkuat. Supaya nanti kalau ada di DPR di DPRD Anda bisa bercerita tentang kondisi fisik kondisi nyata yang ada di negeri ini dan nggak kepeleset korupsi juga," tutupnya.
Dalam proses seleksi tersebut, ada juga juri independen selain Bibit, yaitu Seto Mulyadi, Henny Supolo, Neng Dara Affiah, Djayadi Hanan, Asep Iwan Iriawan, Tuti Hadiputranto, hingga Ade Armando.
