Bibit Samad Soal Penyiraman Novel: Pimpinan KPK Harus Solid

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bibit Samad Rianto di DPP PSI, Jakarta Pusat (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Bibit Samad Rianto di DPP PSI, Jakarta Pusat (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Para pimpinan KPK belum satu suara menanggapi desakan masyarakat soal pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF) untuk mengusut tuntas kasus penyiraman air keras terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan. Mantan pimpinan KPK Bibit Samad Rianto menyebut perbedaan yang ada di level pimpinan KPK adalah hal yang lumrah terjadi, karena pimpinan pemberantasan korupsi di Indonesia tak hanya satu orang.

"Berbeda halnya seperti Singapura yang hanya memiliki satu ketua lembaga pemberantasan korupsi. Itulah kesulitannya, kita berada di komisioner itu lima orang, kalau di Singapura itu cukup satu orang," kata Bibit usai menjadi panelis di DPP PSI, Jakarta Pusat, Sabtu (4/11).

Bibit mengatakan, keputusan KPK adalah keputusan lembaga. Sehingga semua pimpinan harus saling menghormati suara pimpinan yang lain.

"Jadi keputusan dia keputusan organisasi, lima orang mau sinkronisasi. Pengalaman saya sama juga, kita sendiri ngotot kan enggak mungkin yang empat orang, akhirnya kita voting, mana yang kuat mana yang merasa berbeda," sambungnya.

Menurutnya penanganan kasus Novel tersebut tidak bisa dilakukan secara cepat namun juga tidak boleh dibiarkan begitu lama. Kepolisian perlu waktu untuk menyelidiki semua kemungkinan dan fakta di lapangan.

"Kita enggak bisa bilang lebih cepat tergantung apa yang ada di dalam," ujar Bibit.

Meski masih berbeda pendapat dan belum menentukan sikap, Bibit menyebutkan bahwa saat ini KPK harus tetap kompak untuk memberantas tindak pidana korupsi yang ada di Indonesia.

"Jaga soliditas, (KPK Harus) maju terus berantas korupsi," pungkasnya.