Bio Farma Minta Bantuan Sejumlah Lembaga agar India Buka Embargo AstraZeneca

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Vaksinator mempersiapkan vaksin COVID-19 Astrazeneca sebelum diberikan kepada warga di Puskesmas Kota Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (22/3). Foto: Umarul Faruq/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Vaksinator mempersiapkan vaksin COVID-19 Astrazeneca sebelum diberikan kepada warga di Puskesmas Kota Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (22/3). Foto: Umarul Faruq/Antara Foto

Embargo yang dilakukan negara produsen vaksin corona berimbas pada penerimaan vaksin di Indonesia. Salah satunya pengiriman vaksin AstraZeneca lewat skema COVAX-GAVI yang tertunda akibat embargo di India.

Hal ini ikut disoroti oleh pimpinan Komisi VI, Aria Bima, saat rapat kerja dengan PT Bio Farma, PT Kimia Farma, dan PT Indo Farma yang membahas penyediaan vaksin corona di Indonesia.

"Misalnya yang terjadi di situasi terakhir, apakah terganggu, terjadi lonjakan-lonjakan atau permasalahan harga dan distribusi karena mulai terjadi embargo vaksin? Yang sekarang ini terjadi beberapa bulan terakhir atau ke depan, terutama dari negara-negara yang melakukan embargo?" tanya Aria Bima yang memimpin raker kepada jajaran Bio Farma, Senin (29/3).

Menjawab pertanyaan pimpinan Komisi VI, Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir, mengungkapkan persoalan embargo dari negara produsen vaksin corona masih dalam tahap pembahasan bersama. Terutama untuk vaksin corona dari skema COVAX-GAVI yang bersifat donasi WHO.

Vaksinator mempersiapkan vaksin COVID-19 Astrazeneca sebelum diberikan kepada warg, di Kecamatan Kota Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Foto: Syaiful Arif/Antara Foto

"Ada berapa kejadian kenaikan lonjakan pemaparan virus ini di beberapa negara di Eropa dan juga di India. Memang ada kecenderungan, terutama di India sebagai satu produsen vaksin terbesar di dunia, mereka memang lagi melakukan semacam persiapan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negerinya terlebih dahulu," jawab Honesti.

"Sehingga yang kami dapat informasi kemarin, rencana yang dari COVAX facility memang akan ada delay dari sisi pengiriman suplai vaksinnya ke Indonesia," imbuhnya.

Meski begitu, untuk vaksin corona lainnya terutama perusahaan Sinovac diharapkan masih bisa dikirimkan sesuai jadwal dan komitmen di awal. Sejauh ini, diakui Honesti, persoalan embargo ini hanya terjadi pada pengiriman vaksin AstraZeneca dari India.

Menurut Honesti, Kementerian Luar Negeri tengah berupaya melakukan diplomasi lebih jauh lagi, sehingga pengiriman suplai vaksin selanjutnya tidak akan terganggu.

"Bagaimana seandainya suplai ke Indonesia yang sudah terjadwal ini bisa dilakukan sesuai dengan jadwal. Karena kita tidak mau terganggu, karena kecepatan vaksinasi sekarang yang dilakukan pemerintah itu juga sedang melihatkan kenaikan. Yang tadinya ada 100-200 ribu per hari sekarang sudah menunjuk ke angka 500 ribu vaksinasi per hari," ucap Honesti.

Dirut PT Biofarma Honesti Basyir. Foto: Dok. Biofarma

Ia tidak ingin kecepatan vaksinasi yang tengah diupayakan pemerintah justru turun dari target 500 ribu per hari, hanya dikarenakan suplai vaksin yang terhambat dari COVAX tersebut.

"Kami minta bantuan juga beberapa lembaga terkait untuk melakukan diplomasinya, terutama dengan India sebagai yang terbesar untuk vaksin produksi yang AstraZeneca dan juga Novavax. Kita berharap ini tidak ada di delay ke Indonesia sehingga kita tetap bisa melanjutkan program vaksinasi kita," tutup dia.

Vaksin AstraZeneca buatan Inggris-Oxford ini diketahui salah satunya diproduksi di India, negara yang memiliki markas pabrik terbesar dunia. Namun, akibat embargo, India tidak mengizinkan mengirim vaksin AstraZeneca untuk sementara lantaran kasus COVID-19 di sana sedang melonjak.

Padahal, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyebut, jika tidak ada embargo maka kini Indonesia sudah menerima sekitar 11,7 juta dosis vaksin AstraZeneca pada Maret-April 2021. Sayangnya, hal itu urung terlaksana.

"Jadi dapatnya kemarin baru kayaknya 1,17 juta dosis, yang 10,6 jutanya nyangkut," tutur Budi, Minggu (28/3).