BKSDA Bali Selidiki Aksi Lucinta Luna Kendarai Lumba-lumba

Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali engga bicara banyak mengenai video viral Lucinta Luna mengendarai lumba-lumba di media sosial. Lokasi pengambilan video itu diduga di Dolphin Lodge Bali.
Kepala TU BKSDA Bali Prawona Meruanto mengatakan, belum bisa memberi penjelasan terhadap video viral tersebut. Namun akan menyelidiki kasus ini dan memberikan klarifikasi pada Jumat (16/4) atau Sabtu (17/4) mendatang.
“Barusan kami sudah koordinasi dengan pimpinan di Jakarta. Untuk sementara mungkin nanti kami akan melakukan penyidikan terhadap kejadian tersebut. Jadi kami enggak bisa memberikan informasi banyak terhadap media. Mungkin besok atau lusa baru bisa memberikan klarifikasi terhadap kegiatan itu,” kata dia saat dihubungi, Kamis (15/4).
Anto mengatakan, perbuatan Lucinta Luna mengendarai lumba-lumba tidak diperkenankan. Perbuatan Lucinta Luna bisa dikategorikan menyiksa satwa.
“Kalau kita berbicara tentang kesejahteraan satwa memang tidak boleh menyiksa, menempatkan satwa seperti itu,” tuturnya.
Anto menjelaskan, menurut Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 22 Tahun 2019 Tentang Lembaga Konservasi, pihak lembaga konservasi wajib melindungi tingkat kesejahteraan satwa.
“Setiap pemegang izin dan pengelola dilarang menelantarkan satwa atau mengelola satwa yang tidak sesuai etika dan kesejahteraan satwa,” demikian bunyi Pasal 49 ayat (1) huruf e Permen tersebut.
Apabila ada pihak konservasi yang mengingkari kesejahteraan satwa, maka akan diberikan sanksi teguran hingga pencabutan operasional lembaga konservasi. Namun, Anton belum mau berbicara sanksi yang akan diberikan kepada pengelola konservasi.
“Pasti akan ada teguran. Makanya kita melakukan penyidikan dulu. Kita belum sempat datangi lokasinya, setelah itu baru kita memberikan tindakan,” pungkasnya.
Sebelumnya aksi Lucinta Luna tersebut dikecam sejumlah aktivis, aktris hingga politikus. Mereka menilai Lucinta Luna melakukan kekerasan terhadap satwa.
“Mereka disuruh melakukan gerakan tidak natural di luar pada nature-nya dia, tidak dikasih makan, dan dibiarkan kelaparan sampai hari H mereka perform. Belum lagi suara bising penonton atau musik. Mereka itu pendengarannya sangat amat tajam dan sangat sensitif. Ini penyiksaan dan kekejaman,” kata aktivis lingkungan dan perlindungan satwa Davina Veronica.
