BLDF Tanam 5.000 Mangrove, Hadirkan Living Laboratory di Tahura Ngurah Ray Bali

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kegiatan penanaman mangrove oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui kegiatan Green Action Mangrove Bali 2026 di kawasan Tahura Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar, Rabu (2/9/2026). Foto: Sandra Tandiono/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan penanaman mangrove oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui kegiatan Green Action Mangrove Bali 2026 di kawasan Tahura Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar, Rabu (2/9/2026). Foto: Sandra Tandiono/kumparan

Sampan-sampan membelah perairan di tengah rimbunnya hutan bakau. Ketika berhenti di tengah perairan, satu per satu mahasiswa Universitas Udayana (Unud) turun dan memasukkan kaki mereka ke perairan.

Mereka tidak takut dengan lumpur atau dinginnya air karena tujuan mereka adalah membangun laboratorium hidup (living laboratory) dari 5.000 bibit mangrove yang mereka bawa.

Laboratorium hidup itu memungkinkan kawasan mangrove menjadi ruang untuk belajar dan meneliti pengelolaan ekosistem secara langsung.

Kegiatan penanaman tersebut juga merupakan bagian dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui kegiatan Green Action Mangrove Bali 2026. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 5.000 bibit mangrove akan ditanam di kawasan Tahura Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, pada Rabu (2/9).

Selain mahasiswa, kegiatan tersebut juga menggandeng Pemerintah Provinsi Bali, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Simbar Segara, civitas akademika, serta 50 mahasiswa Universitas Udayana.

"Mangrove memiliki peran strategis yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh infrastruktur buatan manusia," ungkap Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Hutan Raya Ngurah Rai Provinsi Bali I Putu Agus Juliartawan, di Pemogan, Rabu (2/9).

Menurut Juliartawan, dalam praktiknya, mangrove memiliki tantangan dalam penanamannya. Salah satunya adalah peluang untuk bertahan hidup (survival rate) yang cukup rendah. Misalnya saja, penanaman mangrove harus dimonitor kurang lebih selama 3 tahun.

Kegiatan penanaman mangrove oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui kegiatan Green Action Mangrove Bali 2026 di kawasan Tahura Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar, Rabu (2/9/2026). Foto: Sandra Tandiono/kumparan

Ada dua hal yang menjadi tantangan dalam membiakkan mangrove, yakni sampah dan predator. Salah satu predator yang sering ditemui di Tahura Ngurah Rai adalah teritip. Teritip tersebut menyerang mangrove, lalu memakannya.

"Kalau dimakan, mati dia (mangrove). Makanya sekarang pas penanaman akan ada di dalam kotak. Jadi yang diserang kotaknya itu, amanlah yang kita tanam," jelasnya.

Juliartawan menjelaskan, Tahura Ngurah Rai membentang seluas 1.373 hektare. Namun, hanya sejumlah 1.000 hektare yang ditanami dengan mangrove. Kawasan tersebut yang harus dijaga agar pertumbuhan mangrove menjadi optimal.

"Terpenting itu bukan menanamnya karena siapa saja bisa menanam. Memelihara dan mempertahankan ini yang sulit. Saya alami sendiri, sudah duluan saya," kekehnya.

Namun, Juliartawan berharap hal tersebut tidak mencegah mahasiswa untuk meneliti mangrove. Penelitian tersebut tidak hanya sebatas penyakit tumbuhan dan kendala, tetapi juga mitigasi yang bisa dilakukan.

Juliartawan mengungkap, meskipun mangrove memiliki ketahanan yang lebih baik daripada tanaman lainnya terhadap sampah, merawat pohon haruslah serupa merawat tubuh manusia.

"Khususnya dari Bali, bahwa kita punya Tri Hita Karana, salah satunya hubungan dengan lingkungan. Urusan dengan lingkungan itu wajib karena secara langsung dan tidak langsung, hasil dari lingkungan tersebut akan didapatkan. Walaupun enggak sekarang," jelasnya.

Sementara itu, Director of Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengungkap pada tahun 2022 dan 2024, BLDF telah menanam 10.000 bibit mangrove di Pemogan, Bali. Dengan demikian, terdapat total 15.000 bibit mangrove yang ditanam di kawasan tersebut oleh BLDF.

Kegiatan penanaman mangrove oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui kegiatan Green Action Mangrove Bali 2026 di kawasan Tahura Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar, Rabu (2/9/2026). Foto: Sandra Tandiono/kumparan

Dari program Djarum Trees For Life (DTFL) secara keseluruhan yang dimulai sejak tahun 2008, tercatat lebih dari satu juta pohon mangrove yang telah ditanam sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali.

Kali ini, Djarum mengangkat konsep laboratorium hidup (living laboratory) yang menjadi tempat konservasi, penelitian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya oleh mahasiswa, tempat tersebut juga terbuka untuk dimanfaatkan dalam riset.

"Laboratorium hidup nanti didedikasikan sebagai tempat penelitian maupun riset-riset lainnya terkait dengan mangrove," ungkap Mutiara.

Mutiara mengungkap, mangrove memiliki kemampuan bertahan hidup (survival rate) hanya 30 persen. Dengan pemanfaatan laboratorium hidup oleh mahasiswa Universitas Udayana, ditargetkan mangrove bisa meningkatkan survival rate-nya hingga 65 persen.

"Bisa diusahakan asalkan sebulan sekali atau dua bulan sekali melakukan monitoring dan mudah-mudahan, dapat ditemukan suatu cara yang tepat dan berkelanjutan," lanjutnya.

Kegiatan penanaman mangrove oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui kegiatan Green Action Mangrove Bali 2026 di kawasan Tahura Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar, Rabu (2/9/2026). Foto: Sandra Tandiono/kumparan

Laboratorium hidup tersebut merupakan sebuah areal yang didedikasikan untuk penelitian. Di areal laboratorium hidup di Pemogan, akan ditanam 5.000 bibit mangrove dan dimonitor selama 6 bulan ke depan, serta dilakukan riset oleh Universitas Udayana.

Mutiara mengungkap, sedang disusun suatu program agar laboratorium hidup yang dibuat bisa terus berkembang.

"Dengan laboratorium hidup, dampaknya akan terasa secara langsung. Bentuk kendalanya juga akan terlihat langsung. Kemudian kita mungkin bisa melakukan uji coba dan sebagainya," pungkasnya.