Blok M Akan Diubah Jadi Kawasan TOD, Pramono Pastikan 332 Tenant Tetap Berjualan

Pemprov DKI Jakarta akan melakukan transformasi kawasan Blok M, Jakarta Selatan, menjadi kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD).
Kawasan TOD merupakan kawasan yang dikembangkan dengan menjadikan transportasi umum sebagai pusat aktivitas, sehingga berbagai fungsi seperti hunian, perkantoran, perdagangan, dan ruang publik terintegrasi dan mudah dijangkau dengan berjalan kaki maupun menggunakan transportasi umum.
Dalam proses transformasi tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan aktivitas di Blok M tetap berjalan. Ia meminta kawasan yang selama ini menjadi tempat berkumpul, kuliner, hiburan, perdagangan, dan aktivitas kreatif itu tidak kehilangan karakter utamanya.
“Blok M enggak boleh berhenti. Blok M enggak boleh apa, napasnya itu tidak tersambungkan. Jadi Blok M itu harus ada terus karena memang di sini seluruh aktivitas sekarang ini tidak pernah terputus,” kata Pramono dalam agenda peluncuran konsep desain transformasi Blok M Fase Ultimate di Blok M Hub, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (6/10).
Pramono menuturkan, perubahan Blok M nantinya harus tetap mempertahankan daya tarik kawasan tersebut. Kata dia, selama ini Blok M menjadi salah satu tempat yang banyak didatangi masyarakat, terutama anak muda.
“Walaupun Blok M mengalami penyempurnaan, dibangun, direvitalisasi menjadi lebih baik, lebih modern, dan lebih tertata, saya berharap Blok M tidak kehilangan ruh utamanya,” tutur Pramono.
“Karena bagaimana pun, ruh itu lah yang menjadi salah satu kekuatan utama Blok M. Orang mengatakan Blok M ini menjadi ‘Negara Blok M’,” lanjutnya.
Pramono menilai kekuatan Blok M terletak pada keberagaman aktivitas yang ada di kawasan itu.
“Orang dari mana saja ketika datang ke Jakarta, terutama anak-anak muda, mereka selalu menyempatkan diri datang ke Blok M, mencari makanan yang baru, sesuatu yang viral, membeli sesuatu yang terjangkau. Itulah yang menjadi kekuatan Blok M,” terangnya.
Karena itu, Pramono meminta PT MRT Jakarta bersama pengembang tetap menjaga aktivitas masyarakat dan pelaku usaha selama proses pembangunan berlangsung.
“Secara khusus saya meminta kepada jajaran MRT dan juga Intiland untuk tetap memegang konsep utama mengenai Blok M, yaitu tempat sesuatu yang bersifat live,” ucapnya.
“Tempat untuk bekerja yang tidak pernah putus, tempat yang terkoneksi dengan segala sesuatu di seluruh dunia, tempat segala sesuatu yang melihat kemajuan anak-anak muda, dan juga tradisi budaya yang baru yang merupakan kolaborasi yang datang dari mana saja,” papar Pramono.
332 Tenant Tetap Berjualan
Saat ini terdapat 332 tenant yang beraktivitas di kawasan Blok M.
Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat, memastikan seluruh tenant akan menjalani proses transisi sebelum pembangunan dimulai. Dengan begitu, aktivitas usaha tetap dapat berjalan selama proses pembangunan.
“Pada saat nanti kita lakukan pembangunan, sebelum groundbreaking, kami menjamin semua tenant itu kami lakukan transisi. Transisi nanti tempatnya kami lakukan di satu tempat. Jadi tidak pernah lepas, tetap melakukan operasi,” jelas Tuhiyat.
Selain aktivitas tenant, layanan transportasi publik juga akan tetap berjalan selama pembangunan. Kata Tuhiyat, pihaknya akan berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), terutama Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
“Pada saat pembangunan berlangsung, TransJakarta tetap berlangsung yang nanti kami akan cari jalan keluarnya bersama para OPD yang terkait dengan itu, terutama Dinas Perhubungan. Itu akan terus berlangsung,” ujar dia.
Dalam konsep Fase Ultimate, ruang yang dapat dimanfaatkan di kawasan Blok M ditargetkan meningkat sekitar 10 kali lipat. Sementara ruang publik akan bertambah sekitar lima kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.
Nantinya, Blok M diharapkan menjadi contoh pengembangan kawasan berbasis TOD yang menggabungkan transportasi publik, ruang publik, aktivitas komersial, dan kehidupan warga.
Pramono juga berharap konsep serupa dapat diterapkan di sejumlah kawasan strategis lain di Jakarta, seperti Pasar Baru, Glodok Pecinan, hingga Kota Tua.
“Saya membayangkan Pasar Baru menjadi Myeong-dong-nya Jakarta. Kemudian kita jalan sedikit sampai dengan Glodok Pecinan, wajahnya juga kita lakukan perbaikan, dan ujungnya terakhir di Kota Tua,” pungkas Pramono.
