BMKG: Ambon Rawan Gempa

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pulau Pombo Ambon sebelum dibersihkan. (Foto: Dok. Kodam Pattimura Ambon)
zoom-in-whitePerbesar
Pulau Pombo Ambon sebelum dibersihkan. (Foto: Dok. Kodam Pattimura Ambon)

Ambon, Maluku, diguncang gempa 6,2 magitudo (M) semalam. Catatan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Ambon dijepit dua sumber utama gempa.

"Ambon secara tektonik memang rawan gempa. Tataan tektonik menunjukkan bahwa Ambon dan Pulau Seram dijepit oleh 2 sumber gempa utama," kata Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Dr Daryono dalam keterangan yang diterima kumparan (kumparan.com), Rabu (1/11).

Selama ini di wilayah Indonesia, lanjut Daryono, memang tidak banyak aktivitas gempa tipe 2, sehingga banyak yang menilai gempa Ambon ini merupakan fenomena unik dan langka.

"Dari utara wilayah ini didesak oleh zona subduksi Seram yang aktif, dan dari selatan terdapat struktur sesar yang dikenal sebagai South Seram Thrust. Struktur sesar ini sangat aktif karena terbentuk oleh efek adanya “tumbukan lempeng” dan hujaman balik sistem subduksi Seram, sehingga wajar jika sumber gempa ini menyimpan medan tegangan kulit Bumi yang dapat terlepaskan sebagai peristiwa gempa kuat. Indikator ini tampak dari seluruh gempa yang terjadi memiliki mekanisme sumber berupa sesar naik (thrust fault) dengan strike/jurus yang berarah barat-timur. Sehingga kuat dugaan bahwa gempa Ambon ini dipicu oleh struktur geologi sesar naik selatan Seram," beber Daryono.

Hasil monitoring BMKG hingga Rabu pagi sudah terjadi 63 aktivitas gempa susulan. Dilihat sebarannya nilai magnitudonya tampak bahwa tren besaran magnitudo sudah mengecil dan frekuensi kejadiannya pun terus menurun.

"Gambaran tingginya tingkat aktivitas kegempaan di Ambon tampak dari peta seismisitas dan catatan sejarah gempa merusak yang terjadi pada masa lalu. Aktivitas seismisitas di Ambon dan sekitarnya memang cukup rapat yang menunjukkan kawasan ini aktif gempa. Selain itu, catatan sejarah gempa kuat masa lalu juga cukup banyak, seperti gempa kuat Ambon yang terjadi pada tahun 1674,1899,1950, 1980, dan 2001," urai Daryono.

Dengan memperhatikan tingginya aktivitas kegempaan di Ambon, maka penting untuk dilakukan kajian bahaya dan risiko gempa dan tsunami di wilayah Ambon dan sekitarnya.

Sementara terkait gempa yang terjadi pada Selasa (31/10) malam, dilaporkan telah menimbulkan kerusakan bangunan di berbagai tempat. Wajar jika warga menjadi sangat panik dan ketakutan karena guncangan gempa yang terjadi berlangsung terterus menerus.

"Fenomena aktivitas gempa yang terjadi secara beruntun sebelum terjadi gempa utama semacam ini dalam ilmu gempa merupakan hal biasa," tutur dia.

Dalam ilmu gempabumi (seismologi), mengenal adanya 3 tipe gempa, yaitu

Gempa tipe 1, dicirikan dengan terjadinya gempa utama (main shock), tanpa ada gempa pendahuluan (foreshocks), yang selanjutnya diikuti oleh serangkaian gempa susulan (aftershocks).

Gempa tipe 2, dicirikan dengan terjadinya serangkaian aktivitas gempa pendahuluan, kemudian terjadi gempa utama, dan selanjutnya diikuti gempa susulan.

Terakhir adalah gempa tipe 3 yang dicirikan dengan rentetan aktivitas gempa berkekuatan kecil yang terjadi secara terus-menerus dalam rentang waktu tertentu, tanpa ada gempa paling kuat sebagai gempa utama. Fenomena semacam ini dikenal sebagai aktivitas swarm.

"Menilik konsep 3 tipe gempa di atas, tampak bahwa gempa bumi yang terjadi di Ambon tadi malam merupakan cerminan dari aktivitas gempa tipe 2, yaitu gempa utama yang didahului oleh gempa pendahuluan. Sehingga wajar jika warga panik karena diguncang 3 kali gempa sebelum terjadi gempa utama M=6,0," tutup dia.

Kota Ambon, Maluku (Foto: Sepeb.com)
zoom-in-whitePerbesar
Kota Ambon, Maluku (Foto: Sepeb.com)