BMKG: El Nino Sangat Kuat, Musim Hujan Mundur

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tanaman kacang panjang yang mengering di wilayah yang dilanda kekeringan saat musim kemarau, di tengah prakiraan bahwa El Nino dapat memicu kondisi yang lebih kering dari biasanya, di desa Rido Galuh, Kabupaten Bekasi, Indonesia, Kamis (16/7/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Tanaman kacang panjang yang mengering di wilayah yang dilanda kekeringan saat musim kemarau, di tengah prakiraan bahwa El Nino dapat memicu kondisi yang lebih kering dari biasanya, di desa Rido Galuh, Kabupaten Bekasi, Indonesia, Kamis (16/7/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, fenomena El Nino saat ini berada dalam fase sangat kuat. Kondisi tersebut membuat musim hujan di Indonesia pada 2026-2027 diperkirakan sedikit mundur.

Faisal mengatakan sejumlah wilayah yang menjadi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) baru akan memasuki musim hujan pada Oktober.

Wilayah tersebut antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

"Karena El Nino sekarang posisinya sangat kuat, fasenya, sehingga musim hujan di Indonesia itu akan sedikit mundur," kata Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (24/9).

video from internal kumparan

Sementara itu, sebagian wilayah lainnya baru akan memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Puncak musim hujan 2026–2027 diperkirakan terjadi pada Desember, Januari, dan Februari.

Menurut Faisal, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla. Sebab, operasi modifikasi cuaca saat ini cukup sulit dilakukan karena potensi awan konvektif di puncak musim kemarau masih rendah.

"Karena sekarang untuk operasi modifikasi cuaca ini cukup sulit karena potensi awan konvektif itu sangat rendah di puncak-puncak musim kemarau ini sehingga operasi modifikasi cuaca ini sangat situasional," ujarnya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani (kanan) bersama Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan (kiri) menyampaikan keterangan saat konferensi pers prakiraan awal musim kemarau 2026 di Gedung D BMKG, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Pesawat Disiapkan di 6 Provinsi Prioritas

Untuk mitigasi karhutla, BMKG bersama BNPB dan Kementerian Kehutanan telah menyiapkan pesawat di enam provinsi prioritas.

Pesawat tersebut akan digunakan untuk patroli dan dapat dialihkan menjadi operasi modifikasi cuaca apabila terdapat potensi awan yang memungkinkan.

Selain satgas udara, Faisal mengatakan penguatan dilakukan melalui satgas darat untuk pemadaman langsung di lokasi. Mitigasi dari udara dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca dan water bombing.

"Jadi semua pesawat di setiap provinsi sudah kita siapkan di bersama dengan BNPB, Kementerian Kehutanan itu di 6 provinsi prioritas sudah kita siapkan untuk pesawatnya digunakan sebagai mode patroli, tapi kemudian apabila ada potensi awan itu segera berubah menjadi modifikasi cuaca," tandasnya.