BMKG: Erupsi Anak Krakatau Hari Ini Tak Sebabkan Abu Vulkanik ke Arah Jakarta

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, September 2026. Foto: magma.esdm.go.id
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, September 2026. Foto: magma.esdm.go.id

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada hari ini, Selasa (8/9). Namun, berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran abu vulkanik dari erupsi tersebut tidak mengarah ke wilayah Jakarta.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan abu vulkanik yang keluar saat ini kemungkinan sudah tidak signifikan sehingga tidak terpantau bergerak ke arah Jakarta.

“Nah, hari ini itu juga meletus. Tetapi barangkali abu yang keluar sudah tidak ada lagi, sehingga kalau kita lihat daripada signification meteorologi arahnya itu tidak sampai ke Jakarta,” kata Guswanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9).

Guswanto pun menjelaskan arah pergerakan abu vulkanik sangat berkaitan dengan kondisi angin di atmosfer. Untuk saat ini, Indonesia tengah memasuki musim kemarau yang secara umum ditandai dengan pola angin timuran.

“Kalau arah angin kita bisa memprediksi secara umum ya, secara umum bahwa saat ini musim kemarau. Di mana musim kemarau itu anginnya angin timuran. Artinya angin dari benua Australia itu bertiup menuju Asia,” jelasnya.

Sestama BMKG Guswanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Dengan pola angin tersebut, Guswanto mengatakan secara umum abu vulkanik dari erupsi yang terjadi di kawasan Krakatau akan lebih mungkin bergerak ke arah barat atau sedikit ke utara.

“Jadi kalau meletusnya erupsi di Krakatau harusnya ke wilayah barat ataupun naik sedikit ke utara gitu kan,” ujarnya.

Namun, ia menekankan arah angin tidak bisa hanya dilihat dari pola umum musim. Kondisi atmosfer memiliki beberapa lapisan dengan arah dan kecepatan angin yang dapat berbeda-beda.

“Namun kita bahwa atmosfer itu sangat kompleks. Jadi perlapisan kami punya,” kata Guswanto.

Untuk mengetahui kondisi angin di setiap lapisan atmosfer tersebut, BMKG melakukan pengamatan menggunakan radiosonde. Alat tersebut digunakan untuk mengukur kondisi atmosfer, termasuk arah dan kecepatan angin pada berbagai ketinggian.

“Nah itu kami melepaskan alat yang namanya radiosonde. Dia perlapisan itu dicek arah dan kecepatan anginnya. Nah kemarin kita mendapatkan dua klaster tadi,” katanya.

Abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau terlihat di Serang, Banten, Minggu (6/9/2026). Foto: Sammy/REUTERS

Guswanto mengatakan BMKG memiliki tugas untuk memantau dampak erupsi, khususnya terkait arah dan sebaran abu vulkanik. Sementara informasi mengenai aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau disampaikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

“Sedangkan BMKG itu memiliki tugas bagaimana dampak daripada abu vulkanik itu sebarannya seperti apa. Kalau beberapa hari yang lalu kemarin ya itu kita melihat ada dua kelompok klaster untuk sebaran abu vulkanik. Di ketinggian 50.000 feet itu pergerakannya ke arah barat,” kata Guswanto.

Menurutnya, pada ketinggian yang lebih rendah, yakni sekitar 12.000 hingga 15.000 kaki, terdapat pergerakan abu vulkanik ke arah timur. Pergerakan tersebut sebelumnya sempat berdampak terhadap aktivitas sejumlah bandara.

“Sedangkan di ketinggian 12 sampai 15.000 feet itu ada pergerakannya ke timur. Nah, ke timur inilah yang menyebabkan terganggunya beberapa bandara terkait abu vulkanik. Seperti itu intinya secara umum,” pungkasnya.

Adapun Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami 4 kali erupsi pada hari ini berdasarkan catatan Badan Geologi Kementerian ESDM, sebagai berikut:

  • 05:08 WIB – Amplitudo maks. 47 mm, durasi 15 detik.

  • 05:34 WIB – Amplitudo maks. 44 mm, durasi 10 detik.

  • 07:49 WIB – Amplitudo maks. 48 mm, durasi 19 detik.

  • 11:34 WIB – Amplitudo maks. 50 mm, durasi 17 detik.

Seluruh letusan di Gunung Anak Krakatau tidak teramati secara visual.