BMKG: Jumlah Alat Pendeteksi Tsunami Masih Terbatas

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Foto: Sayid Muhammad Mulki Razqa)
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Foto: Sayid Muhammad Mulki Razqa)

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut alat pendeteksi tsunami dan gempa di seluruh garis pantai Indonesia masih sangat terbatas. Dwi mengakui, kejadian tsunami dan gempa di Sulawesi Tengah akan menjadi bahan evaluasi ke depan.

"Perlu kami usulkan juga karena jumlahnya masih sangat terbatas di pantai-pantai Indonesia. Padahal potensi tsunami dekat itu sangat besar juga, jadi itu yang akan kami usulkan," kata Dwi usai rapat dengan Komisi V, di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/10).

Dwi mengatakan alat pendeteksi tsunami paling utama itu melalui pemodelan komputer yang dapat memberikan mendeteksi tsunami paling lambat 5 menit setelah tsunami terjadi.

“Jadi tide gauge dan buoy itu sifatnya bukan untuk peringatan dini (tsunami). Ini yang harusnya diluruskan. Peringatan dini yang kami lakukan itu dengan pemodelan komputer yang diberikan paling lambat 5 menit setelah gempa terjadi,” lanjut Dwi.

Menurutnya, tide gauge dan buoy merupakan alat untuk mengkonfirmasi ulang saat tsunami mencapai bibir pantai. Hanya saja, kata dia, ketika tsunami yang melanda Palu dan Donggala sedang terjadi, alat tersebut gagal untuk menyampaikan peringatan kepada BMKG.

“Di Palu itu saat gempa, itu kami membutuhkan tide gauge bukan buoy. Yang dibutuhkan di Palu itu tide gauge untuk merekonfirmasi apakah tsunami sudah datang sampai ke pantai, apakah airnya sudah naik, apakah airnya sudah surut. Alat itu ada, namun saat terjadi gempa dan tsunami, alat itu tidak berhasil mengirimkan informasi ke BMKG,” terangnya.

"Ini evaluasi bagi kami bahwa ini bentuk bencana. Jaringan komunikasi itu kita tingkatkan. Karena alat itu kan terkena guncangan gempa. Dia masih baca hanya tidak bisa mengirim,” tutupnya.