BMKG: Nama Siklon Seroja Dipensiunkan karena Efeknya Sangat Merusak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani (kiri) melihat pergerakan lalu lintas pesawat saat meninjau Posko Natal dan Tahun Baru di Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (29/12/2025). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani (kiri) melihat pergerakan lalu lintas pesawat saat meninjau Posko Natal dan Tahun Baru di Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (29/12/2025). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan nama Siklon Tropis Seroja resmi dipensiunkan dan tidak akan digunakan kembali.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, keputusan tersebut diambil karena dampak kerusakan yang ditimbulkan Siklon Seroja tergolong besar.

“Siklon Seroja tahun 2021 di NTT itu kategori 2. Sehingga namanya sekarang dipensiunkan, tidak kita namakan lagi siklon dengan nama Seroja karena efeknya yang sangat merusak,” kata dia dalam konferensi pers virtual yang disiarkan YouTube BNPB, Senin (29/12).

Penamaan siklon ditentukan oleh badan meteorologi suatu negara yang bertanggung jawab memantau perkembangan siklon di wilayahnya.

Indonesia memiliki daftar nama yang diambil dari nama buah dan bunga yang siap digunakan secara bergiliran jika terbentuk siklon di wilayah pemantauan BMKG, seperti Siklon Tropis Bakung yang terjadi medio Desember.

Nama siklon akan dipensiunkan jika bersifat merusak agar tidak menimbulkan trauma bagi penyintas dan untuk catatan sejarah.

Siklon Bakung, Bibit Siklon 93S dan 95S per 16 Desember 2025. Foto: Dok BMKG

5 Siklon Selama 55 Tahun di Indonesia

Lebih lanjut Faisal menjelaskan, selama 55 tahun terakhir hanya tercatat 5 siklon yang terjadi di dekat atau melintasi wilayah Indonesia.

Siklon tersebut adalah Vamei di Aceh pada 2001, Cempaka dan Dahlia pada 2017 di wilayah selatan Jawa, Seroja pada 2021 di Nusa Tenggara Timur, serta Siklon Senyar pada 2025.

Siklon Tropis Seroja yang memicu musibah banjir dan longsor di NTT. Foto: BMKG

“Ini di Indonesia hanya kategori 1, kecuali yang Siklon Seroja masuk dalam kategori 2. Adapun maksimal kekuatan siklon sendiri yang terbesar dan paling merusak adalah kategori 5,” ujar Faisal.

Siklon Seroja memicu cuaca ekstrem di NTT dan menyumbang terjadinya bencana hidrometerologi, total 181 orang meninggal dan 47 hilang. Sementara 4.000-an rumah juga rusak diterjang air.

Sejumlah nelayan mengumpulkan kembali puing-puing kapal motor yang hancur serta mengumpulkan pukat yang ikut tenggelam akibat siklon Seroja di TPI Tenau, Kota Kupang, NTT. Foto: Kornelis Kaha/Antara Foto

Efek Coriolis

Faisal menegaskan, Indonesia pada dasarnya bukan wilayah rawan siklon tropis karena berada di sekitar khatulistiwa. Efek Coriolis menyebabkan siklon cenderung berbelok dan melemah ketika mendekati wilayah ekuator.

“Indonesia itu sesungguhnya bukan daerah yang rawan terhadap siklon tropis ya karena berada di daerah khatulistiwa. Akibat perputaran bumi, ada efek Coriolis yang membuat siklon itu akan berbelok dan melemah ketika memasuki daerah khatulistiwa,” ucapnya.