BMKG soal Banda Aceh Terendam Air Laut 2070: Itu Bukan Ramalan

Akibat perubahan iklim, Kota Banda Aceh diprediksi akan terendam air laut 50 tahun mendatang. Prediksi ini merupakan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh tim Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.
Hasil kajian itu menunjukkan pesisir Banda Aceh akan mengalami kenaikan muka air laut. Tiga persen dari total luas Kota Banda Aceh akan terendam, angka ini akan meningkat 11 persen dalam waktu 100 tahun jika tidak ada pengembangan tepat di kawasan tersebut.
Luasan genangan tsunami juga diprediksi bertambah 28 persen dari cakupan rendaman saat tsunami 2004 silam.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Mata Ie Kelas III Banda Aceh, Djati Cipto Kuncoro, menyebutkan potensi bencana itu bisa saja terjadi jika melihat rentetan bencana yang kerap melanda Aceh. Menurutnya, hasil penelitian itu bukanlah ramalan tetapi berdasarkan kejadian-kejadian sebelumnya.
“Bukan meramal, tetapi semua kajian berdasarkan kejadian-kejadian yang kemudian dilakukan penelitian. Lalu kita menyebutnya potensi. Dan potensi itu tidak berarti harus terjadi hari ini, tetapi bisa beberapa puluh tahun kemudian,” kata Djati saat dikonfirmasi kumparan, Rabu (22/1).
Hasil penelitian yang dikeluarkan TDMRC, kata Djati, sudah menjadi tugas mereka untuk menyampaikannya agar warga bisa waspada. Potensi itu bisa saja terjadi karena BMKG juga mengeluarkan katalog kejadian gempa dan tsunami beberapa tahun yang lalu.
BMKG juga telah melakukan sedikit kajian, beranjak dari gempa dan tsunami 2004 silam. BMKG melakukan perhitungan sehingga dari kejadian gempa yang terjadi itu bisa terhitung potensi bencana beserta kekuatannya di kemudian hari.
“Jadi dari hasil perhitungan itu kita bisa mengetahui berapa energi yang akan dan belum dilepas. Secara teori jika sudah sering terjadi gempa-gempa kecil, insyaallah kan energi itu sudah berkurang. Sehingga kemungkinan untuk energi yang besar itu akan semakin kecil,” ungkapnya.
Karena itu, Djati mengimbau masyarakat bisa mulai teredukasi dari kejadian gempa dan tsunami Aceh 2004. Sebab, kata dia, ekses dari peristiwa itu hingga saat ini banyak terjadi gempa-gempa kecil. Bahkan berdasarkan catatan, bencana gempa dan tsunami Aceh 2004 itu bukanlah yang pertama terjadi.
“Sehingga dalam artian dari hasil penelitian itu masyarakat bisa lebih waspada dan siaga akan bencana. Masyarakat ke depannya, sudah harus mengetahui jika terjadi bencana maka sudah harus waspada dan antisipasi. Jika membangun bangunan, maka bentuk bangunannya seperti apa,” katanya.
Djati berpesan, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir untuk semakin siaga akan bencana dan tidak lupa berkaca pada peristiwa gempa dan tsunami Aceh 2004.
“Memang kita (BMKG) tidak pernah hentinya terus memberikan pelatihan (edukasi) tentang dampak dari saudara-saudara kita yang tinggal di pinggir pantai. Jika memang daerah itu rawan bencana, maka paling tidak masyarakat itu sudah lebih akan siaganya. Masyarakat kami terus memperhatikan imbauan yang disampaikan oleh institusi terkait seperti BPBA (Badan Penanggulangan Bencana Aceh), BMKG, dan pemerintah setempat,” pungkasnya.
