BMKG soal Busa Mirip 'Awan Hitam' Beterbangan di Subang: Bukan Fenomena Alam
·waktu baca 3 menit

Gumpalan busa hitam menyerupai awan yang tampak melayang di udara membuat heboh warga Subang, Jawa Barat. Menanggapi peristiwa tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena tersebut bukan kejadian alam.
"Berdasarkan hasil kajian awal dari aspek meteorologi (data), fenomena tersebut tidak termasuk dalam kejadian alam yang disebabkan oleh proses cuaca, awan, maupun aktivitas atmosfer lainnya," kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, melalui pesan tertulis, Rabu (29/10).
Teguh mengatakan, secara ilmiah, awan terbentuk dari kondensasi uap di atmosfer dengan pola, ketinggian, dan karakteristik tertentu yang dapat diidentifikasi oleh citra satelit dan radar cuaca BMKG.
Ia mengatakan, gumpalan hitam tersebut lebih mungkin berasal dari aktivitas manusia.
"Menurut kami fenomena yang tampak berupa gumpalan hitam tersebut lebih mungkin berasal dari aktivitas di permukaan bumi, misalnya dari proses industri, reaksi kimia limbah, atau aktivitas manusia lainnya yang menyebabkan terbentuknya busa atau material ringan yang kemudian terangkat oleh angin," ucap Teguh.
Teguh menyarankan pemeriksaan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
"Namun untuk memastikan sumber serta kandungan materialnya, disarankan agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh instansi terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) atau BPBD setempat," ucap Teguh.
Menurut Teguh, BMKG Jawa Barat akan terus memantau kondisi cuaca dan atmosfer di wilayah Subang. Pihaknya juga menyatakan siap memberikan dukungan data untuk kajian lebih lanjut.
"BMKG Jabar terus memantau kondisi cuaca dan atmosfer di wilayah Subang serta siap memberikan dukungan data, apabila diperlukan untuk kajian lebih lanjut oleh pihak berwenang," ucapnya.
Busa hitam pekat itu melayang di udara dan menempel di jalan serta atap rumah warga.
Rohim, salah seorang warga setempat menyebut, busa tersebut berbau menyengat dan menimbulkan rasa gatal ketika bersentuhan dengan kulit.
“Awalnya kami kira asap kebakaran, dan awan hitam yang jatuh terbawa angin, tapi pas didekati ternyata busa hitam. Bau banget, kayak limbah pabrik,” ungkap Rohim (45), warga setempat kepada wartawan, Rabu (29/10/2025).
Beberapa warga menduga, busa misterius itu berasal dari limbah cair industri yang dibuang ke saluran air tanpa pengolahan memadai.
"Dugaan tersebut menguat karena di sekitar lokasi terdapat sejumlah pabrik yang beroperasi di sektor kimia dan tekstil," katanya.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Subang menyatakan tengah melakukan penelusuran untuk memastikan sumber busa tersebut.
“Kami sudah kirim tim ke lokasi untuk mengambil sampel dan melakukan uji laboratorium. Hasilnya akan segera diumumkan begitu analisis selesai,” ujar Kepala DLH Subang, Dedi Supriatna.
Dedi juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan menghindari kontak langsung dengan busa tersebut hingga ada hasil resmi dari pemeriksaan.
Fenomena ini menambah daftar panjang persoalan pencemaran lingkungan di wilayah industri Subang. Di kawasan tersebut juga khususnya di jalur Pantura, sering menjadi tempat pembuangan limbah B3, yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat.
