BMKG soal Penyebab Jakarta Mendung, tapi Terasa Gerah: Kelembapan Udara Tinggi

Cuaca mendung di Jakarta dalam beberapa hari terakhir tak selalu membuat udara terasa sejuk. Kondisi tersebut justru membuat udara terasa lebih gerah.
Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan tingginya kelembapan udara yang membuat keringat lebih sulit menguap dari kulit.
“Kalau Jakarta mendung tapi terasa gerah, biasanya penyebab utamanya adalah kelembapan udara yang sangat tinggi,” kata Guswanto, Senin (12/10).
Menurut Guswanto, banyaknya awan memang mengurangi sinar matahari yang masuk. Namun, kandungan uap air di udara dapat membuat tubuh terasa lebih panas dan lengket.
“Akibatnya, keringat lebih sulit menguap dari kulit sehingga tubuh terasa lebih panas dan lengket,” ujarnya.
Selain kelembapan tinggi, ada sejumlah faktor lain yang dapat menyebabkan udara terasa gerah, seperti awan tebal yang menahan panas di permukaan kota dan angin lemah yang membuat sirkulasi udara kurang lancar.
Guswanto juga menyebut fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan sebagai salah satu faktor. Banyaknya beton, aspal, dan bangunan di Jakarta membuat panas tersimpan dan dilepaskan secara perlahan, termasuk ketika cuaca mendung.
“Jadi singkatnya: mendung tidak selalu berarti sejuk. Jika kelembapannya tinggi dan angin minim, tubuh justru bisa merasa lebih gerah dibanding saat cuaca cerah berangin,” jelasnya.
Guswanto menambahkan, prakiraan BMKG menunjukkan kelembapan udara di Jakarta masih cukup tinggi dalam beberapa hari ke depan, yakni mencapai kisaran 80-90 persen lebih pada waktu-waktu tertentu.
Kondisi udara yang semakin lembap juga dapat menjadi salah satu tanda atmosfer mendukung pembentukan hujan. Meski demikian, kondisi tersebut tidak selalu berarti hujan akan langsung turun.
