BMKG soal Tangsel-Depok Polusi Tertinggi: Udara Panas Ekstrem Berpengaruh
·waktu baca 3 menit

Polusi di Tangerang Selatan dan Depok menjadi yang terburuk kedua dan ketiga di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi musim kemarau dan suhu panas ekstrem menjadi faktor yang memperburuk tingkat pencemaran udara di wilayah tersebut.
Fungsional Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG, Dwi Atmoko, menjelaskan pengukuran dilakukan saat musim kemarau, ketika udara cenderung lebih kering dan minim curah hujan.
“Mungkin pertama, pengukurannya memang di musim kemarau. Jadi di dalam musim kemarau itu konsentrasi cenderung kering. Kenapa? Karena tidak ada pencucian atmosfer tadi,” kata Dwi usai media briefing di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (24/10).
Ia mengatakan, tidak adanya “pencucian atmosfer” menyebabkan partikel debu dan polutan di udara tidak terendapkan oleh air hujan. Selain faktor cuaca, sumber utama polutan di Jabodetabek berasal dari aktivitas transportasi.
“Jadi otomatis debu-debunya di udara itu tidak terendapkan melalui air hujan. Yang kedua, memang sumber-sumber polutan di Jabodetabek itu lebih utama transportasi,” ujar Dwi.
“Jadi selama banyak orang-orang masih menggunakan transportasi, maka ya otomatis polutannya akan tinggi. Karena setiap pembakaran bakar fosil itu akan menghasilkan namanya aerosol. Dan aerosol itu kemudian akan mempengaruhi atau meningkatkan konsentrasi dari PM2.5 kita,” tambahnya.
Dwi menegaskan kondisi panas ekstrem yang terjadi belakangan ini turut memperburuk situasi.
“Jadi faktor yang mempengaruhi polusi adalah karena tidak ada hujan, hujannya berkurang, otomatis pencucian atmosfernya itu tidak ada. Yang kedua, bisa jadi karena inversi,” jelasnya.
Ia menggambarkan fenomena inversi sebagai kondisi ketika “paru-paru atmosfer” mengempis sehingga ruang bagi partikel polutan menjadi sempit.
“Atmosfer kita itu ibarat paru-paru, dia bisa mengembang, bisa mengempis. Nah pada saat ada inversi itu, dia mengempis. Akibatnya apa? Sirkulasi dari polutan, partikel itu pada ruangannya lebih sempit begitu,” ujar Dwi.
“Bayangkan ketika ruangannya besar, dengan jumlah partikel yang sama, dia pasti konsentrasinya akan lebih rendah,” tandasnya.
Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti buruknya kualitas udara di sejumlah daerah akibat polusi. Buruknya kualitas udara itu dipantau dari alat IQAir, tingkat polusi di Tangsel hingga Depok menyentuh angka zona merah atau bahaya.
Sebagai tindak lanjut, Faisol lalu menyurati daerah terkait, agar menekan aktivitas yang menimbulkan polusi berlebihan.
Surat itu isinya adalah kepada daerah-daerah untuk menekan aktivitas yang menimbulkan polusi berlebihan. Namun, surat itu belum ditindaklanjuti oleh pemerintah kota/kabupaten setempat.
“Sebetulnya saya harus mengulang surat kayak saya kali, ya. Karena surat sudah dua-tiga kali kita minta mereka untuk melakukan aktivitas yang mengarah dalam penurunan kualitas, penurunan kualitas udara,” kata Hanif di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa (21/10).
Hanif mengatakan baik buruknya kualitas udara merupakan tanggung jawab bersama. Dia juga menyinggung ada beberapa faktor terjadinya polusi udara.
“Ada dari sektor, BBM, kemudian transportasi, kemudian energi yang untuk boiler ataupun furnace (tungku pembakaran), kemudian, ada yang dari konstruksi,” kata dia.
