BMKG Ungkap Penyebab Gempa Sumba Barat Daya NTT: Aktivitas Sesar Waikabubak

Gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,9 mengguncang wilayah Pantai Barat Daya Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (4/10) pagi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan gempa dipicu aktivitas sesar aktif yang berasosiasi dengan Sesar Waikabubak.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif yang diduga berasosiasi dengan Sesar Waikabubak,” ujar Ardhasena dalam konferensi pers daring, Minggu (4/10).
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault,” lanjutnya.
Ardhasena mengatakan episenter gempa berada di koordinat 9,84 derajat Lintang Selatan dan 118,9 derajat Bujur Timur.
“Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 9,84 derajat Lintang Selatan dan juga 118,9 derajat Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di laut 59 kilometer barat daya Kodi, Sumba Barat Daya di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” kata Ardhasena.
Ardhasena memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
“Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.”
Gempa tersebut dirasakan di sejumlah wilayah dengan tingkat intensitas yang berbeda. Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan atau shakemap, guncangan paling kuat tercatat mencapai skala VI MMI di sejumlah wilayah Sumba Barat Daya.
“Yang pertama skala VI MMI, atau getaran yang dirasakan oleh semua penduduk di mana kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, itu terjadi di Kodi Balaghar, Sumba Barat Daya, Kodi Bangedo juga di Sumba Barat Daya, di Kodi, Sumba Barat Daya,” paparnya.
Sementara itu, intensitas IV MMI tercatat di sejumlah kota, yakni Tambolaka, Waikabubak, Waibakul, dan Raba. Adapun intensitas III MMI tercatat hingga Kota Bima.
“Lalu dengan intensitas IV MMI, yaitu bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah, itu terjadi di Kota Tambolaka, Kota Waikabubak, Kota Waibakul, dan Kota Raba,” ungkap Ardhasena.
“Lalu dengan intensitas III MMI, gempa dirasakan nyata di dalam rumah, terasa getaran seakan seperti truk yang berlalu, itu terjadi di Kota Bima,” imbuhnya.
