BMKG Ungkap Stafnya Sempat Ditahan Warga NTT yang Takut Gempa Susulan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Update gempa bumi Flores NTT M7,7 hingga 25 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB. Foto: Dok BMKG
zoom-in-whitePerbesar
Update gempa bumi Flores NTT M7,7 hingga 25 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB. Foto: Dok BMKG

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan ada sejumlah stafnya yang ditahan oleh masyarakat yang terdampak gempa NTT.

Hal itu disampaikan Faisal dalam rapat koordinasi penanganan bencana yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Nagekeo, NTT, Rabu (26/8).

Awalnya, Faisal menjelaskan, masyarakat sekitar masih banyak dilanda ketakutan akan adanya gempa dan tsunami susulan yang besar. Hal tersebut bahkan membuat masyarakat lebih memilih bertahan di posko pengungsian.

Faisal menyebut, pihaknya terus berada di lokasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Saat itulah, beberapa masyarakat malah menahan para staf BMKG.

"Di sini kami juga memberikan pembelajaran ke masyarakat, memberi pemahaman karena masyarakat khawatir sekali sampai staf BMKG ditahan di posko-posko agar mereka merasa nyaman, tenang, takut ada gempa susulan dan sebagainya," ungkap Faisal.

Meski begitu, saat ini sejumlah masyarakat sudah mulai tercerahkan. Mereka pun berangsur kembali ke rumahnya masing-masing.

"Nah, sekarang sudah mulai kembali ke rumah. Rumahnya juga kondisinya satu lantai dan jarang-jarang ini kadang mengambil bantuan ke posko, tapi nanti kembali ke rumah jika kerusakannya ringan, tidak membahayakan. Ini kami memberikan pemahaman seperti itu," jelas dia.

BMKG Terapkan Protokol Internasional

Warga melintas di samping bangunan rumah yang roboh akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (19/8/2026). Foto: Mega Tokan/ANTARA FOTO

Di sisi lain, Faisal menyebut, ketika gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8) lalu, pihaknya langsung melakukan protokol internasional.

"Sejak hari pertama ketika gempa, kami melaksanakan protokol internasional. Ketika terjadi gempa, maka kurang dari 3 menit kita harus menginformasikan dan menyampaikan potensi tsunami akan terjadi di mana," ujar Faisal.

Menurutnya, peringatan tsunami langsung disampaikan dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa terjadi. Informasi disebarluaskan melalui semua kanal yang dimiliki BMKG.

"Tsunami sendiri terjadi di beberapa lokasi terutama di bagian utara dari Flores ini sampai dengan ketinggian 2,5 meter, tapi tidak ada korban sama sekali, Bapak Presiden," tutur dia.

NTT Terancam Siklon Tropis

Faisal menjelaskan, NTT saat ini juga terancam dilanda bencana siklon tropis.

"Satu hal lagi Bapak Presiden, bahwa kondisi di Nusa Tenggara Timur ini terancam akan bencana siklon tropis, kekeringan, dan juga gempa," ujar dia.

Ia mengungkapkan, sebenarnya banyak negara yang datang ke BMKG untuk meminta pendampingan dalam menghadapi bencana. Sebab, ia mengeklaim, BMKG memiliki kelebihan di bidang tersebut.

"Menteri Perhubungan dari Timor Leste beserta jajaran itu datang ke kantor BMKG ingin mendapatkan support dari Indonesia untuk dapat memperkuat meteorologi, klimatologi, dan geofisika di Timor Leste," tutur Faisal.

"Selama ini dibantu oleh Australia, dan kita mulai menempatkan staf setahun penuh di sana. Tidak hanya Timor Leste, tapi di negara-negara Oseania seperti Fiji, Tonga itu kita juga mendukung karena BMKG sudah lebih advance di bidang penanganan bencana dan pemantauannya," ungkap dia.