BNPB: 2023 Musim Panas Lebih Panjang, Operasi Tangani Karhutla Akan Lebih Besar
ยทwaktu baca 2 menit

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto membeberkan pihaknya kini tengah menyiapkan teknologi manipulasi cuaca (TMC) yang lebih masif untuk mengantisipasi cuaca ekstrem pada 2023.
Ia pun telah meminta kementerian dan lembaga terkait agar bisa bekerja sama dengan swasta untuk menggencarkan TMC.
Salah satunya, BNPB memprediksi kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang 2023 akan meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya akibat kondisi cuaca. Sebab itu, peningkatan TMC juga dibutuhkan.
"Sebagai informasi dari BMKG, justru di tahun 2023 ini musim panasnya lebih panjang. Sehingga kami prediksi di 2023 ini operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan lebih besar daripada 2021 dan 2023," kata Suharyanto dalam Rapat Kerja bersama Komisi VIII di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (18/1).
Suharyanto menerangkan pada 2021 luas lahan terbakar seluas 358.867 hektar. Sementara pada 2022 luas lahan yang terbakar yakni 204.894 hektar.
"Jadi kami kontingensi di 2023, kami sudah rapat koordinasi, dan diizinkan untuk 2023, di samping mengerahkan unsur pemerintah juga bisa mengerahkan unsur swasta," ungkap Suharyanto.
Pemerintah saat ini sedang memprioritaskan penanganan karhutla di enam provinsi Indonesia, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
BNPB memandang TMC terbukti efektif pada pencegahan badai yang diprediksi BMKG jelang Nataru tahun lalu. TMC dilakukan oleh BRIN dan TNI AU. Namun, keterbatasan TMC tak bisa dilaksanakan di beberapa daerah lantaran terbatas. Sehingga bantuan swasta diharapkan dapat membantu pelaksanaan TMC di daerah-daerah yang membutuhkan.
"Kami sudah siapkan lebih banyak helikopter dan modif cuaca karena sangat bantu, bisa dimainkan musim hujan dan kemarau. Pesawat ternyata terbatas, nggak cukup, maka di 2023 kami rakor dan minta Menko terkait, di 2023 bisa gunakan swasta. Sehingga 2023 jika cuaca ekstrem bisa dilayani semua TMC," pungkasnya.
Selama periode 1-17 Januari 2023, di Indonesia sudah dilaporkan terjadi 81 kali bencana yang didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah seperti cuaca ekstrem dan banjir.
Dari 81 kejadian bencana itu, tercatat sebanyak 306.978 orang mengungsi dan menderita, 16 orang lainnya luka-luka, dan lima di antaranya meninggal dunia.
.
