kumparan
25 Jan 2019 17:58 WIB

BNPB Akan Tanam Pohon Masuya hingga Mahoni Tangkal Tsunami dan Longsor

Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo, di Lahan Pembibitan Pohon milik Budiasi, Bogor. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)
Letnan Jenderal TNI Doni Monardo sempat dikenal dengan program Emas Hijaunya, yakni pembudidayaan pohon Masoya yang sudah dia lakukan sejak menjabat sebagai Pangdam Pattimura 2 tahun lalu. Pohon ini merupakan salah satu bahan pembuatan parfum mahal kelas dunia, Hermes.
ADVERTISEMENT
Kali ini dengan jabatan barunya sebagai kepala BNPB, Doni memiliki ide untuk memasukkan pohon tersebut sebagai bagian dari mitigasi bencana.
“Kami sekarang memetakan jenis-jenis pohon yang bisa ditanam di pantai. Karena konstruksi manusia ada batas waktunya,” kata Doni, saat perayaan HUT BNPB ke-11, di Pusdiklat BNPB, Sentul, Bogor, Jumat (25/1).
Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo, di Lahan Pembibitan Pohon milik Budiasi, Bogor. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)
Hal itu ia lakukan karena ia telah membaca sebuah riset, yang menyatakan bahwa seluruh pantai di Jawa pernah diterjang Tsunami. Pohon-pohon keras yang akan ditanam di area pantai, diharapkan bisa menahan gelombang sebagai bagian dari mitigasi.
Usai perayaan tersebut, Doni mengajak awak media untuk mengunjungi pembibitan pohon milik lembaga Budiasi di Sentul, Bogor. Di sana, ia memamerkan bibit pohon Masoya.
ADVERTISEMENT
Di tempat pembibitan tersebut, ditemui juga pohon Mahoni, Trembesi, Kativer, Damar, hingga Baobab yang didatangkan langsung dari Madagaskar.
Bibit-Bibit Pohon milik Budiasi, Bogor. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)
“Kemarin kita sudah kirim satu kontainer pohon Kativer untuk ditanam di belakang kantor Wali Kota Jayapura,” kata Doni.
Pohon yang akan ditanam ini berguna untuk mengembalikan fungsi lahan di beberapa lereng gunung, sebagai antisipasi longsor. Contoh paling aktual ia temukan di kawasan gunung Bawakraeng, Gowa, Sulawesi Selatan. Ia berencana akan memulihkan lahan konservasi di lereng yang kini terdampak longsor tersebut.
“Lebih dari 40 persen status lahan sangat kritis, sehingga perlu ada upaya maksimal agar konservasi bisa pulih. Untuk kembalikan fungsi konservasi enggak bisa setahun dua tahun atau secara situasional, tetap secara berkelanjutan dengan jenis pohon yang terpilih," pungkas Doni.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan