BNPB: Alat Deteksi Tsunami di Indonesia Tak Beroperasi Sejak 2012

kumparanNEWSverified-green

clock
Buoy, alat pendeteksi datangnya gelombang tsunami. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Buoy, alat pendeteksi datangnya gelombang tsunami. (Foto: Pixabay)

Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, baru saja dilanda gempa dan tsunami. Indonesia sebenarnya punya alat deteksi tsunami atau buoy tsunami, tapi sudah tidak beroperasi sejak 2012.

“Jadi enggak ada buoy tsunami di Indonesia. Sejak 2012 bouy tidak sudah ada yang beroperasi sampai sekarang ya. Buoy tsunami yang memang diperlukan untuk memastikan bahwa tsunami ada sebagai salah satu bagian sistem peringatan dini,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Minggu (30/9).

Buoy tsunami bekerja sebagai pendeteksi adanya kenaikan ombak di area-area yang dikenal rawan gempa dan tsunami. Alatnya berupa pemancar yang dipasang di tengah laut. Buoy akan memancarkan sinyal bila terdeteksi ada gelombang tinggi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho saat konfrensi pers terkait bencana Sulawesi Tengah di Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (29/9). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho saat konfrensi pers terkait bencana Sulawesi Tengah di Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (29/9). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Sutopo mengatakan, alasan mengapa tidak adanya buoy yang berfungsi karena masalah pendanaan. Sejak 2012, pendanaan BNPB terus menurun sehingga untuk merawat buoy menjadi sulit.

“Mengapa dari 2012 sampai sekarang belum diadakan ya mungkin sangat terkait dengan asal pendanaan. Kalau kita melihat ya pendanaan apalagi turun setiap tahun. Dulu sempat hampir mendekati Rp 2 triliun tahun ini hanya Rp 700 milliar,” ujar Sutopo.

Meskipun begitu, tanpa pendanaan yang besar seperti itupun, BNPB mengembangkan sensor-sensor bawah laut untuk mendeteksi tsunami secara dini.

“Mungkin bisa juga dikembangkan sensor-sensor bawah laut yang ditempatkan di bawah laut. BNPB telah mengembangkan hal itu. Mengapa kemudian kok enggak ada? Itu bisa ditanyakan kepada institusi yang berwenang terkait peringatan dini di bawah laut,” ujar Sutopo.

Sutopo mengatakan bahwa Indonesia memerlukan alat-alat pendeteksi tsunami seperti buoy tsunami atau alat pendeteksi tsunami dini lainnya.

“Ya kalau menurut saya, memerlukan, sangat memerlukan wilayah indonesia itu yang rawan tsunami. Kejadian tsunami sering terjadi dan menimbulkan banyak korban,” ujarnya.

Saat ini, tercatat total 832 orang tewas akibat gempa dan tsunami yang melanda Donggala dan Palu. Korban tewas akibat tertimpa reruntuhan bangunan dan diterjang tsunami.93