BNPB Bantu Perbaikan Rumah Warga Luwu Utara Terdampak Banjir Bandang Rp 50 Juta

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah mobil terseret akibat terjangan banjir bandang di Desa Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7). Foto: Abriawan Abhe/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah mobil terseret akibat terjangan banjir bandang di Desa Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7). Foto: Abriawan Abhe/Antara Foto

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan untuk mempercepat proses pemulihan pasca-banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Luwu Utara, instititusinya akan menyalurkan bantuan perbaikan rumah. Menurut Doni Monardo, BNPB akan mempercepat proses bantuan dan melakukan koordinasi dengan Gubernur Sulawesi Selatan untuk setiap rumah yang tergolong rusak berat akan dibantu dengan dana Rp 50 juta yang diserahkan kepada masyarakat sudah dalam bentuk bangunan.

Sementara itu, untuk rumah yang tergolong rusak sedang di Luwu Utara akan diberikan bantuan dana sebesar Rp 25 juta, sedangkan yang tergolong rusak ringan akan diberikan bantuan dana sebesar sekitar Rp 10 juta sampai Rp 15 juta.

Warga memerhatikan rumah yang tertimbun lumpur akibat banjir bandang di Kecamatan Masammba, Luwu Utara, Sulsel, Rabu (15/7). Foto: Abriawan Abhe/ANTARA FOTO

Doni mengatakan hal ini merupakan program nasional dan pemerintah kabupaten dapat mengusulkan nama dan alamat warga yang rumahnya rusak terdampak banjir bandang.

Lebih lanjut Doni mengingatkan kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Luwu Utara dan masyarakatnya tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dalam mencegah terjadinya bencana.

“Kejadian ini (banjir bandang) merupakan evaluasi bagi kita untuk bersungguh-sungguh memperhatikan dan menata keseimbangan ekosistem,” ujar Doni dalam sambutannya pada peninjauan lokasi bencana banjir bandang di Kantor Bupati Luwu Utara, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat (17/7) dan dimuat keterangan persnya pada Sabtu (18/7).

Doni menjelaskan dalam satu setengah sampai dua tahun terakhir, Sulawesi Selatan mengalami dua kali peristiwa banjir bandang. Kejadian pertama terjadi di Makassar yang merenggut korban hampir 100 orang. Hal ini terjadi akibat alih fungsi lahan di bagian selatan.

“Perubahan ekosistem dan alih fungsi lahan di bagian selatan. Yang semula kawasan hutan lindung berubah jadi kawasan pertanin semusim, khususnya tanaman jagung. Hal ini harus jadi perhatian dan meningkatkan kesadaran kolektif bahwa ketika jumlah penduduk semakin bertambah dan kebutuhan lahan pertanian semakin banyak, yang harus kita utamakan dan ingat adalah kita harus menjaga keseimbangan alam,” jelas Doni.

Doni menegaskan bahwa jangan sampai ekosistem alam terganggu karena masyarakat dan pemerintah daerah setempat tidak mengelolanya dengan tepat.

“Jangan sampai alam terganggu karena kita mengelolanya tidak tepat,” tegas Doni.

***

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

embed from external kumparan