BNPB Sebut Kalsel Langganan Banjir Sejak 2011

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Banjir di Barabai Darat, Kecamatan Barabai, Hulu Sungai Tengah. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Banjir di Barabai Darat, Kecamatan Barabai, Hulu Sungai Tengah. Foto: Dok. Istimewa

Bencana banjir melanda sejumlah kabupaten di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada pertengahan Januari lalu. Akibatnya, sebanyak 483.324 orang terdampak banjir.

Plt Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, mengatakan peristiwa banjir bukan kali pertama terjadi di Kalsel. Menurut catatan BNPB, bencana banjir melanda Kalsel sejak 2011.

"Artinya memang riwayat dari Kalimantan Selatan ini sudah sering terjadi jadi kalau kita punya data dari 2011 sampai 2018 memang ini kejadian banjir cukup banyak yang terjadi dan yang terdampak cukup banyak," ujar Jati dalam Focus Group Discussion (FGD) banjir di Kalimantan Selatan secara virtual, Selasa (2/2/2021).

Jati menyatakan perlu 2 langkah pencegahan agar banjir tak terus berulang yakni pemeliharaan terhadap lahan resapan dan rehabilitasi.

"Ada dua siklus lain yang disebut pertama di mana kita melakukan pengawasan kalau kita bicara daerah-daerah aliran sungai kalau kita bicara kondisi stabil itu harus ada pemeliharaan, Ini adalah proses atau siklus yang mungkin kita lupakan," ucap Jati.

Kapusdatin BNPB Raditya Jati. Foto: Dok. Pribadi

"Kemudian dalam risiko dia melakukan rehabilitasi ini ada perbaikan ini proses investasi semuanya pemeliharaan dan terjadi bencana baru kita mungkin lebih sibuk karena sudah terjadi bencana," lanjutnya

Ia menyebut proses rehabilitasi dan pemeliharaan daerah resapan air sangat penting demi menghindari dampak banjir yang lebih besar.

"Dampak dari 13 kabupaten kota yang ada di Kalimantan Selatan ini ada 11 terdampak catatan kami berdasarkan data pusdalops yang terakhir kami dapatkan dengan beberapa kerugian sampai triliunan rupiah artinya memang sejauh mana sekarang dampak dari bencana itu bisa menimbulkan kerugian yang dalam waktu sekejap bisa hilang investasi pembangunan yang telah dilakukan di suatu wilayah bilamana terjadi," tutup Jati.