Bocah Rohingya Tinggal Tulang dan Kulit karena Kurang Gizi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak-anak Rohingya.  (Foto: Fred Dufour / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak Rohingya. (Foto: Fred Dufour / AFP)

Kondisi pengungsi Rohingya semakin memprihatinkan. Seorang bocah berusia 5 tahun karena kurus kering sampai tidak bisa menerima imunisasi yang akan diberikan seorang dokter.

Menurut dokter Bangladesh yang bekerja untuk klinik amal Gonoshasthaya Kendra, Dr SK Jahidur Rahman, anak-anak Rohingya kehidupannya terancam. Mereka menderita kekurangan nutrisi akut.

"Seorang anak bocah mengatakan dia tidak memakan apa pun selama delapan hari, tidak ada sama sekali yang dimakan," sebut Rahman seperti dikutip dari AFP, Senin (10/2/2017).

Rahman mengatakan, ada banyak anak-anak pengungsi yang mencoba ke klinik tempatnya bekerja untuk memperbaiki kondisi. Namun, tidak semua dapat sampai ke klinik untuk diobati.

Anak-anak Rohingya.  (Foto: Fred Dufour / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak Rohingya. (Foto: Fred Dufour / AFP)

Karena kondisi sudah yang begitu memprihatinkan banyak pengungsi meninggal dunia sebelum sampai di klinik.

Tidak hanya bocah lima tahun tersebut, Rahman menyebut ia pernah bertemua seorang ibu bernama Monura yang membawa anaknya berusia 13 bulan.

Bayi tersebut bernama Rian Bebe. Ia menderita gizi buruk kronis. Tulung pipinya menonjol keluar dan di sekitaran bagian mata terlihat cekungan besar.

Seorang perawat di klinik terkejut ketika mengukur ukuran lengan Rian sangat kecil, cuma seukuran pensil. Bahkan berat bayi tersebut diusianya yang sudah lebih setahun hanya 5,5 kilogram.

Rahman menjelaskan, ibu dari bayi itu selama lima hari perjalanan dari Myanmar menuju Bangladesh sama sekali tidak memberi makan anaknya. Akibatnya, bayi tersebut terserang kelaparan akut.

"Mereka hanya meminum sedikit air dan berjalan selama lima hari. Mereka bersembunyi di hutan, untuk menahan lapar mereka sampai mengunyah kayu atau apa saja yang bisa dimakan untuk menahan rasa lapar," papar dia.

Kini untuk menyelamatkan Rian, klinik telah memberikan pasta dengan kalori tinggi. Setelah ini, tim dokter berencana melakukan pemulihan kesehatan lanjutan.

"Banyak anak-anak Rohingya sudah menderita gizi buruk sebelum melakukan perjalanan berbahaya ke Bangladesh. Kesahatan mereka semakin memburuk," ujar Rahman.

"Sistem kekebalan tubuh mereka sudah melemah, mereka tak berdaya jika ada wabah penyakit yang menyerang," lanjut dia.

Anak-anak Rohingya.  (Foto: Fred Dufour / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak Rohingya. (Foto: Fred Dufour / AFP)

Di kamp pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, baru-baru ini seorang bayi delapan bulan meninggal dunia akibat gizi buruk yang diperparah dengan paru-paru basah.

"Kondisi sudah tinggal kulit dan tulang, kondisinya sangat parah," sebut seorang petugas medis di Cox's Bazar, Shaheen Abdur Rahman.

Dari data yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ada setidaknya 145 ribu bayi Rohingya yang harus segera diselamatkan karena beresiko terkena gizi buruk.

"Banyak anak-anak yang menunjukan gejala terkena kelaparan dan kekurangan gizi. Ini adalah sebuah peringatan," ucap Direktur Unit Kesehatan Darurat Lembaga Save The Children, Uni Krishnan.