Bom Gereja di Surabaya, antara Dendam dan Eksistensi ISIS

Satu keluarga menjadi pelaku teror di tiga gereja Surabaya. Pengamat teroris Harits Abu Ulya mengatakan, aksi ini menjadi bukti adanya dua hal, karena rasa dendam dan pembuktian ISIS.
Pelaku teror tersebut adalah R. Dita Oepriarto (47 th) dan istrinya Puji Kuswati (43 th) kelahiran Banyuwangi,dan anak-anak mereka; Yusuf Fadhil (18 th), Firman Halim (16 th), Fadhila Sari (12 th), Famela Rizqita (9 th). Mereka tinggal di Wisma Indah Blok K-22 Rungkut, Surabaya.
"Apakah faktor kemiskinan membuat mereka manjadi bomber maut? Dari indikasi rumah hunian mereka bukan orang miskin namun sangat cukup," kata Harits dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/5),
"Analisa saya energi paling besar adalah soal teologi beku yang suami istri adopsi kemudian diintrodusir juga kepada putra putrinya dengan waktu yang cukup," sambung dia.
Ia mengatakan, selain itu ada juga rasa kemarahan atas realitas yang dianggap menzalimi mereka dan kawan-kawan mereka. "Atau ketika ekspresi keyakinannya menemukan jalan buntu atau terantuk oleh langkah-langkah aparat keamanan," tutur dia.

Harits menjelaskan, faktor-faktor di atas menstimulasi rasa dendam, kenekatan dan keputus asaan keluarga tersebut melakukan teror. "Artikulasi puncaknya memilih sebagai bomber maut," ujar dia.
Ia menambahkan, ada indikasi kuat keluarga ini berafiliasi kepada kelompok IS-ISIS. Setelah serangan dilancarkan, memang tidak berselang lama ISIS juga mengklaim bertanggung jawab.
"Aktornya adalah junud (tentara) mereka. Klaim seperti ini bisa dimaklumi karena IS-ISIS dalam situasi kondisi melemah mereka butuh menunjukkan eksistensinya. Mereka butuh membangkitkan moral semua elemen yang menjadi bagiannya dengan narasi keberhasilan serangan-serangan sporadis dan terencana dan dilakukan dibanyak negara di luar Suriah-Iraq termasuk Indonesia," urainya.
"Jadi; dendam dan membangun citra kelompok yang lagi lemah dengan aksi-aksi teror menjadi pusaran dari fenomena kekerasan saat ini dan kemungkinan di waktu-waktu mendatang," sambung dia.

Dari insiden bom bunuh diri ini, lanjut dia, menyisakan pertanyaan menggelitik soal bomnya, mengingat daya ledak dan impactnya cukup kuat. "Siapakah yang merakit? Siapakah yang mengajari? Bagaimana didapatkan material bomnya, bagaimana buku panduan itu didapat di luar sumber open source. Kemudian siapa dan bagaimana Dita sekeluarga diintrodusir hingga siap menjadi "pengantin"," ungkap dia.
"Mengingat serangan ini dilakukan terorganisir dan melibatkan banyak orang, siapakah master mindnya? Publik menunggu jawaban dari pemerintah dengan terang benderang," tutupnya.
Jumlah korban tewas akibat insiden ledakan bom di 3 gereja di Surabaya, Jawa Timur, berjumlah 13 orang. Hal itu dijelaskan oleh Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Pol. M. Iqbal di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuna, Surabaya.
"Ada 13 korban meninggal dunia. Di antaranya 6 pelaku dan 7 jemaat gereja. 43 luka-luka," ucap Iqbal, di lokasi, Minggu (13/5).
Polisi merinci, jumlah korban tewas di Gereja Santa Maria Tak Bercela sebanyak 7 orang, yakni 2 orang dari pelaku dan 5 orang berasal dari jemaat. Sedangkan korban luka mencapai 29 orang.
Kemudian, untuk jumlah korban tewas di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro sebanyak 3 orang, yang semuanya merupakan pelaku. Sedangkan lima orang mengalami luka-luka.
Terakhir, di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, korban tewas sebanyak 3 orang, yaitu 1 orang pelaku dan 2 lainnya merupakan jemaat gereja. Sementara untuk korban luka, terdapat 11 orang.
