Bon Ali 'Polisi Baik' Kini Punya 10 Gedung untuk Anak Yatim

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bon Ali menunjukkan pembangunan gedung baru Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai yang menjadi tempat tinggal ratusan anak terlantar dan yatim dari berbagai daerah di Indonesia. Foto: Dok. Bon Ali
zoom-in-whitePerbesar
Bon Ali menunjukkan pembangunan gedung baru Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai yang menjadi tempat tinggal ratusan anak terlantar dan yatim dari berbagai daerah di Indonesia. Foto: Dok. Bon Ali

Masih ingat dengan Ipda Ali Nur Suwandi atau akrab disapa Bon Ali, polisi yang dulu dipuji Kapolri Listyo Sigit sebagai polisi jujur?

Kini Bon Ali yang menjabat Kanit Provos Polsek Kotagede, Polresta Yogyakarta, itu telah memiliki 10 gedung untuk anak yatim dan terlantar di Kotagede.

Bon Ali adalah pendiri Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai yang menjadi tempat tinggal ratusan anak terlantar dan yatim dari berbagai daerah di Indonesia.

"Gedung total ada 10. Tapi yang 6 masih kontrak. Kalau yang 4 alhamdulillah sudah milik yayasan," kata Bon Ali, Kamis (5/2).

Bon Ali di Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai, Kotagede Yogyakarta, Jumat (5/11). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Salah satu gedung yang terbaru, pembangunannya sudah 95 persen. Rumah yatim ini memiliki empat lantai. Bon Ali berharap gedung ini bisa diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

"Siapa tahu Pak Prabowo berkenan untuk meresmikan," kata Bon Ali.

Bon Ali mengatakan di yayasannya kini ada 110 anak yang diasuh. Mereka merupakan anak kurang beruntung seperti anak napiter hingga anak yatim.

Tak hanya dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), anak-anak ini juga berasal dari luar DIY.

"Campuran ada dari Jawa Timur, dari Semarang, dari Jakarta, Magelang, dari Lampung. Beraneka ragam," katanya.

"Latar belakang juga beraneka ragam ada yatim piatu, ada fakir miskin, anak dari napiter," katanya.

Bon Ali menunjukkan pembangunan gedung baru Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai yang menjadi tempat tinggal ratusan anak terlantar dan yatim dari berbagai daerah di Indonesia. Foto: Dok. Bon Ali

Ke depan, Bon Ali berharap yayasan ini agar bisa semakin luas dan menampung lebih banyak anak yatim dan terlantar.

"Keinginan kita ya manut sama Gusti Allah pengin punya gedung lagi," katanya.

Pembangunan gedung-gedung yayasan ini merupakan donasi dari berbagai donatur. Gedungnya berada di beberapa titik di Kotagede.

"Bismillah (Pak Prabowo bisa meresmikan). Karena bagaimana pun kalau yang meresmikan Pak Presiden kan kita itu ya senang. Yang bantu-bantu juga senang. Jadi rumah singgah ini dibantu masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tentunya banyak orang yang baik-baik," pungkasnya.

Profil Bon Ali

Bon Ali bersama anak-anak asuhnya di Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai, Kotagede Yogyakarta, Jumat (5/11). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Bon Ali adalah polisi kelahiran Malang, Jawa Timur, 17 Agustus 1978.

Bon adalah nama panggilannya selama nyantri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang milik KH Djamaluddin Ahmad. 16 tahun nyantri di sana, nama Bon melekat karena sosok Ali yang gemar utang di koperasi pesantren saat itu.

"Bon Ali itu kan di pondok, santri paling melarat. Namanya Ali kan banyak pas Ali aku sering ngutang di koperasi jadi Ali Bon. Bon Ali di Pondok tidak pernah kalau enggak utang pasti utang," kata Ali ditemui kumparan 2021 silam.

Meski lama nyantri, Ali mengaku tak sepandai rekan-rekan lainnya. Meski begitu, petuah-petuah kiai tetap dia jalankan. Dia tak segan membantu berdagang tempe untuk pondoknya.

Restu kiai itu pula yang dia bawa ketika hendak mendaftar Sekolah Calon Tamtama (Secata) Polda Jatim pada tahun 1999. Ali menghadap kiainya waktu itu, menyampaikan niatnya mengabdi pada negeri melalui kepolisian.

Anak santri ini pun jadi polisi. Tamtama muda ini ternyata langsung mendapatkan tugas ke Yogyakarta, dia menjadi Propam di Polda DIY tahun 1999 itu.

Sebagai santri yang jadi polisi selain tupoksi kepolisian harus ditaati, amanah dari sang kiai pun harus dipegang teguh.

Dalam sunyi, Ali selalu berusaha membantu anak yatim yang dia temui. Semakin lama semakin banyak anak yatim yang dia bina. Tahun 2006, Ali kemudian menikah dengan pujaan hatinya asal Kotagede. Di situ pula yayasan yang dia cita-citakan berhasil berdiri pada tahun 2008.