Borobudur-Prambanan Jadi Tempat Peribadatan Dunia, Umat Buddha Ingin Ada Pendopo
ยทwaktu baca 3 menit

Sejumlah candi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dicanangkan sebagai tempat ibadah untuk umat Hindu dan Buddha. Candi tersebut meliputi Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon.
Melalui penandatanganan Nota Kesepakatan Menteri Agama, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Menteri BUMN, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur Jawa Tengah, maka akan banyak kegiatan keagamaan tidak hanya saat hari-hari besar seperti sekarang.
"Kita menandatangani kesepakatan Candi Borobudur, Pawon, Mendut, dan Prambanan itu bisa digunakan untuk Buddhis maupun Hindu. Tadi sudah ditandatangani Bapak Menteri lewat zoom. Sehingga pemanfaatan ini segera bisa dilaksanakan," kata Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) di Kepatihan Pemda DIY, Jumat (11/2).
Koordinator Stafsus Menteri Agama RI Adung Abdul Rochman mengatakan selama ini keempat candi tersebut merupakan cagar budaya yang dilindungi. Selama ini pemanfaatan candi ini lebih kepada penelitian, kebudayaan dan pariwisata. Kini, pemanfaatan untuk keagamaan juga diperbanyak.
"Sekarang kita sedang belajar untuk memanfaatkan candi-candi yang memang ini dulu dibuat atau didirikan untuk kepentingan bukan hanya tadi (pariwisata dan pendidikan) tapi kepentingan agama kita manfaatkan lagi untuk kepentingan agama umat Hindu dan Buddha," kata Adung.
Adung menjelaskan bahwa tidak hanya umat di Indonesia, tetapi candi-candi tersebut bisa dimanfaatkan oleh umat di dunia.
"Dalam MoU itu disebutkan ada banyak sekali kegiatan yang akan dilaksanakan bukan hanya hari besar," katanya.
Sangha Theravada Indonesia, Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera, mengucapkan terima kasih dan bersyukur dengan MoU ini. Sehingga candi-candi itu tidak hanya mempunyai nilai pendidikan, kebudayaan, ekonomi, pariwisata tetapi akan memberikan nilai spiritual kembali.
"Seperti pada waktu candi-candi itu awalnya dibangun oleh nenek moyang kita," kata Bhikku Sri Pannavaro.
Dia juga menyampaikan bahwa dengan nota kesepakatan ini pihaknya tetap tidak akan mengubah status candi itu. Akan tetapi pihaknya juga menyampaikan agar dibangun pendopo di sekitar Borobudur agar umat nyaman beribadah.
"Karena kalau hujan, kalau umat itu kehujanan dan kepanasan semua. Sedangkan yang sudah sepuh yang dari dalam negeri, luar negeri tidak semua bisa naik ke candi," katanya.
Diharapkan, di salah satu zona di Borobudur yang tidak masuk kawasan Unesco bisa dibangun pendopo. Di mana pendopo tersebut bisa menampung 100 orang dan bisa duduk bersama untuk sembahyang. Bisa duduk dan bermeditasi.
"Di mana di pendopo itu kira-kira 100 orang bisa duduk bersama sembahyang. Pendopo itu bukan vihara bukan tempat ibadah permanen hanya pendopo saja terbuka tetapi tetap bisa melihat Candi Borobudur," katanya.
"Dan ada tempat menancapkan dupa. Meski itu bukan keharusan, tetapi kalau umat Buddha bisa nancapkan dupa itu rasanya mantap sekali," bebernya.
Dia menjelaskan bahwa usulan ini sudah berpuluh-puluh tahun lalu. Dengan MoU ini, diharapkan keinginan adanya pendopo ini bisa terlaksana.
"Dan pendopo itu bukan khusus Buddha. Umat apa pun siapa pun boleh lenggah (duduk) di situ. Menikmati atmosfer borobudur dan pendopo itu terbuka. Tidak ada pernik-pernik agama sama sekali tetapi umat Buddha mendapatkan fasilitas untuk meditasi semedi sebayang yang tidak kepanasan dan kehujanan," ujarnya.
Terkait permintaan tersebut, Adung Abdul Rochman mengatakan akan menindaklanjuti permintaan tersebut. Tidak hanya di Borobudur tetapi juga di Prambanan.
"Kami harap ada komunikasi bagaiman pembangunan yang baik sesuai kaidah-kaidah yang diinginkan. Sehingga bisa beribadah dengan baik sesuai dengan yang diinginkan," katanya.
