BP2MI Dalami Penyebab Pasti Kematian Nazwa yang Disebut Overdosis Obat
·waktu baca 3 menit

Kepala Balai Perlindungan Pekerja Migran (BP2MI) Sumatera Utara, Harold Hamonangan, menuturkan pihaknya sedang berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Kemlu untuk mengetahui penyebab pasti kematian Nazwa Aliya (19 tahun).
Nazwa adalah remaja asal Kabupaten Deli Serdang yang pamit cari kerja ke Kota Medan. Dia tiba-tiba ada di Kamboja. Ia tewas di Kamboja disebut-sebut lantaran overdosis obat panadol.
“Cuma kami masih menunggu berita lengkap kematiannya, meninggalnya ini kami koordinasi KBRI, anggota juga masih cari info meninggalnya kenapa,” kata Harold pada Kamis (21/8).
“Sekarang posisinya di mana dan nanti untuk kepulangannya, memang kalau untuk kepulangan saat ini jelas dari sana seperti Azwar (korban tewas sebelumnya) ya bahwa kami gak bisa membiayai ya. Tapi kalau sudah tiba di Sumut itu bisa kita fasilitasi ya artinya biaya bisa kita bantu,” sambungnya.
Sebelumnya, ibu Nazwa, Lanniari, menuturkan ia mendapat kabar bahwa Nazwa tewas lantaran overdosis Panadol. Selain itu, katanya, Nazwa juga mengidap dispepsia alias gangguan lambung.
Biaya pemulangan Rp 138 juta
Lanniari menyebut bahwa ia dikabarkan oleh KBRI bahwa biaya proses pemulangan jenazah Nazwa membutuhkan uang senilai Rp 138 juta.
Namun, jika Nazwa dimakamkan di Kamboja, maka biayanya Rp 50-60 juta. Namun, ia sama sekali tidak dapat menyanggupi lantaran masalah ekonomi.
“Kalau untuk kepulangan saat ini jelas dari sana seperti Azwar (korban tewas sebelumnya) ya, bahwa kami gak bisa membiayai ya. Tapi kalau sudah tiba di Sumut itu bisa kita fasilitasi ya artinya biaya bisa kita bantu,” kata dia.
“Kalau dari sana, Kamboja, itu di luar kewenangan kami, jadi itu nanti kami juga sedang tanya seperti apa dari KBRI karena yang jelas memang akan kemungkinan biaya tinggi,” sambungnya.
Nazwa sebelumnya pergi dari rumah pada Kamis (29/5) sekitar pukul 4.30 WIB. Ia meninggalkan ibunya yang masih tertidur. Namun, malam sebelumnya, ia sudah pamit hendak wawancara kerja di salah satu bank swasta di Kota Medan.
Namun, ibu Nazwa memiliki firasat tak enak. Ia pun menghubungi Nazwa dan tiba-tiba saja Nazwa sudah di Thailand.
Saat di bandara di Thailand, Nazwa mengaku akan ditemui oleh pria bernama Chris yang merupakan teman ibu Nazwa saat di Malaysia. Katanya, ia akan melanjutkan perjalanan ke Kamboja.
Chris disebut akan membangun sebuah perusahaan di Kamboja. Namun, Lanniari bilang, hal tersebut belum dapat ia pastikan.
Lanniari juga mengaku nomor ponselnya diblokir oleh Chris dan Nazwa sehingga ia tak dapat berkomunikasi dengan keduanya. Hingga pada 12 Agustus, Lanniari mendapat kabar bahwa Nazwa sudah meninggal dunia lantaran sakit.
