BPBD DKI Sebut Ada 2-4 Kebakaran di Jakarta per Hari, Apa Penyebabnya?

20 September 2023 10:44
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Anggota Laboratorium Forensik Polda Metro Jaya berjalan di area pasca kebakaran Museum Nasional atau Museum Gajah di Jakarta, Minggu (17/9/2023). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Kebakaran masih menjadi salah satu bencana yang kerap terjadi di Jakarta dan perlu diwaspadai. Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Aji mengatakan, setidaknya ada 2-4 kebakaran yang terjadi di Ibu Kota per harinya.
ADVERTISEMENT
"Satu hari di Jakarta frekuensi 2-4 dengan skala bengkel sampai pabrik. Angkanya mungkin di atas 400 kejadian kebakaran dari Januari sampai September (2023)," kata Aji dalam diskusi terkait penanggulangan kebakaran di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (20/9).
"Ini PR bagaimana kita kurangi frekuensi tersebut. Tidak mesti di kemarau, stabilnya frekuensi kebakaran juga terjadi di musim hujan," imbuh dia.
Warga membantu memadamkan sisa kebakaran di kawasan Rajawali, Kemayoran, Jakarta, Senin (4/9/2023). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Aji melanjutkan, penyebab utama karena Jakarta merupakan wilayah penduduk. Selain itu, menurutnya banyak bangunan lama yang tak dicek rutin, termasuk yang berkaitan dengan instalasi listrik.
"Banyak rumah di Jakarta di kawasan padat hunian, banyak yang dibangun tahun 70-80 tidak lakukan perbaikan instalasi PLN. Dalam bangunan tanggung jawab pemilik, yang sewa. Kami biasanya tinjau lokasi kebakaran, banyak kabel serabut tahun 80-an," ujar dia.
ADVERTISEMENT
Selai itu, menurutnya banyak kontrakan yang memasang akses listrik tak sesuai standar.
"Dulu waktu kecil mungkin alat elektronik terbatas, sekarang saya temukan kontrakan di Jakut, Jakbar, kecil tapi alat lengkap. Laptop, HP 3, kipas angin nggak berhenti. Mungkin colokannya nggak SNI, ketika dicolok semua korslet," kata Aji.
Aji mengimbau masyarakat agar rutin melakukan pengecekan dan memasang instalasi listrik sesuai standar.
"Tugas kita ikut kurangi risiko kebakaran, misal imbau lakukan penggantian instalasi listrik, imbau jangan gunakan listrik tidak sesuai ketentuan. Dulu ada bangunan konveksi, meterannya kayak meteran kontrakan, kita telusuri ada meteran palsu di dalam yang bisa terjadi kebakaran," tandasnya.

Jumlah Kebakaran Meningkat 10 Persen dari 2021 ke 2022

Petugas damkar memadamkan kebakaran rumah bedeng di Cakung, Jakarta Timur, Minggu (27/8). Foto: Sudin Gulkarmat Jaktim
Sementara, peneliti senior, Rakyan Adibrata mengatakan, jumlah kebakaran di Jakarta naik 10 persen dari 2021 ke 2022. Sementara di 2023, sudah ada 400 kebakaran besar sepanjang Januari-September.
ADVERTISEMENT
"Data yang kami peroleh dari open source, jumlah kebakaran di 2022 di DKI hampir 1.700 kasus, meningkat 10 persen dari 2021. Berapa di tahun ini? Yang besar ada 400-an, baru sampai September," kata dia.
"Ini bukti nyata bencana kebakaran salah satu yang tinggi rate di Jakarta dan ancaman serius," imbuhnya.
Rakyan melanjutkan, kesadaran masyarakat harus ditingkatkan untuk kurangi risiko kebencanaan. Mulai dari teredukasi tentang mitigasi kebakaran hingga penanganan darurat.
Ia menambahkan, pemerintah juga harus siap meningkatkan teknologi penanganan kebakaran.
"Penting mutakhirnya teknologi kebakaran, penggunaan alat pemadam high tech dibutuhkan. Di beberapa negara, misalnya, drone dalam rangka tidak hanya alat pengindraan, tapi juga bisa padamkan api di 100 meter," pungkasnya.
Teranyar, banyak koleksi dan benda bersejarah di Museum Gajah alias Museum Nasional Indonesia (MNI) yang rusak akibat insiden kebakaran pada Sabtu (16/9) malam. Jumlahnya mencapai 817 koleksi.
ADVERTISEMENT
Hampir 100 orang dikerahkan oleh tim MNI bekerja sama dengan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) untuk menyelamatkan sejumlah besar artefak berharga dan sejarah yang ada di dalam Gedung A tersebut.