BPBD: Meski Sebaran Abu Vulkanik di DKI Menurun, Water Mist Tetap Dikerahkan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengerahkan kendaraan operasional untuk melakukan penyemprotan kabut air (water mist) di sepanjang rute Kuningan hingga Pejaten, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengerahkan kendaraan operasional untuk melakukan penyemprotan kabut air (water mist) di sepanjang rute Kuningan hingga Pejaten, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau ke wilayah Jakarta mulai mengalami penurunan signifikan sejak Senin (7/9).

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan, berdasarkan pemantauan bersama BMKG dan instansi terkait, saat ini sudah tidak ada lagi sebaran abu vulkanik yang masuk ke wilayah Jakarta.

“Sejak kemarin untuk wilayah DKI Jakarta sebaran abu vulkanisnya sudah mulai turun. Sudah sangat turun sekali. Bahkan sudah tidak ada lagi masuk ke wilayah DKI Jakarta berdasarkan peta sebaran abu vulkanis yang dikeluarkan oleh BMKG,” kata Marulitua saat dihubungi kumparan, Selasa (8/9).

Meski begitu, BPBD masih menemukan residu abu vulkanik di sejumlah wilayah. Residu tersebut merupakan sisa abu yang sebelumnya terbawa angin dan kini masih menempel, terutama pada pepohonan.

“Ya itu sisa-sisa kemarin aja (abu vulkanik). Itu ya rata-rata adanya di pepohonan, masih menyangkut di pepohonan. Tinggal pembersihan-pembersihan aja,” ujarnya.

Untuk membantu membersihkan residu sekaligus menekan partikel di udara, Pemprov DKI masih mengerahkan water mist hingga hari ini, Selasa (8/9) di sejumlah wilayah di Jakarta.

Marulitua mengatakan pengerahan water mist akan dilakukan sambil melihat perkembangan kondisi di lapangan.

“Iya, kita masih lakukan hari ini water mist. Sambil melihat perkembangan nanti. Kalau misalnya sudah terkendali, sudah aman, ya sudah kita enggak lakukan lagi water mist,” jelasnya.

Sementara itu, BPBD DKI juga telah mengaktifkan posko untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, OMC belum dilaksanakan karena masih menunggu waktu dan kondisi atmosfer yang memungkinkan.

“Poskonya kita sudah aktifkan. Tapi kan karena abu vulkanis itu kan berada di lapisan udara, itu akan mengganggu untuk penerbangan tentunya,” kata Marulitua.

Menurutnya, pelaksanaan OMC tidak bisa dilakukan sembarangan. Salah satu pertimbangannya adalah keberadaan awan yang memungkinkan operasi tersebut memberikan hasil.

“Kita sedang menunggu waktu yang paling tepat. Karena kalau dilakukan OMC ternyata pertumbuhan awannya tidak ada juga, ya enggak akan mendapatkan hasil juga,” ujarnya.

Marulitua menegaskan, OMC akan dilakukan apabila kondisi atmosfer dan ketersediaan awan memungkinkan. BPBD masih berkoordinasi dengan BMKG untuk menentukan waktu yang tepat.

“Untuk OMC, kami masih memperhatikan informasi dari BMKG untuk dilakukan OMC. Kami sedang berusaha untuk bisa dilakukan OMC,” katanya.

Lebih lanjut ia menambahkan, kondisi sebaran abu vulkanik tetap dinamis karena dipengaruhi aktivitas Gunung Anak Krakatau serta arah dan kecepatan angin. Karena itu, BPBD masih berkoordinasi dengan BMKG dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

“Ya kami masih terus memantau ya,” ujar Marulitua.

“Kami koordinasikan terus ini dengan BMKG dan PVMBG ya, untuk memantau terus aktivitas daripada Gunung Anak Krakatau itu,” sambungnya.