BPBD Sebut Ada 306 Hotspot di Riau, Prabowo Minta Segera Dibangun Sumur Bor

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan karhutla di Posko Aju, Provinsi Riau, Senin (24/8/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan karhutla di Posko Aju, Provinsi Riau, Senin (24/8/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Presiden Prabowo Subianto meminta penanganan titik panas (hotspot) di Riau dilakukan sedini mungkin untuk mencegahnya berkembang menjadi titik api. Prabowo bahkan meminta segera dibangun sumur bor di lokasi-lokasi hotspot.

Hal itu disampaikan Prabowo saat memimpin rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Posko Aju, Pekanbaru, Riau, Selasa (24/8).

Dalam rapat tersebut, Kepala BPBD Riau M Edy Afrizal melaporkan terdapat 306 hotspot yang terdeteksi di Riau hingga 23 Agustus 2026.

"Untuk per tanggal kemarin 23 Agustus, terdeteksi hotspot di Provinsi Riau sebanyak 306 titik," kata Edy.

Dari 306 hotspot tersebut, sebanyak tujuh titik telah menjadi titik api dan tersebar di empat kabupaten.

"Yang sudah menjadi terbakar tujuh titik yaitu tersebar di empat kabupaten. Pertama di Kabupaten Pelalawan satu titik, Indragiri Hilir dua titik, Indragiri Hulu dua titik, Kampar dua titik," ujarnya.

Edy mengatakan titik yang masih cukup besar berada di Kabupaten Pelalawan dan Kampar.

"Saat ini yang masih cukup besar itu berada di Kabupaten Pelalawan itu di Kerumutan dan Kabupaten Kampar di Ribo Panjang," katanya.

Adapun luas lahan terbakar di Riau sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 16.277,50 hektare.

"Untuk luasan terbakar dari di Provinsi Riau dari Januari sampai dengan bulan Agustus ini berjumlah sebanyak 16.277,50 hektare," ujar Edy.

Sementara itu, jumlah hotspot sejak Januari hingga Agustus tercatat mencapai 10.514 titik, dengan 521 titik di antaranya telah menjadi titik api.

"Alhamdulillah sudah bisa kita padamkan sehingga tinggal dari saat ini ada tujuh titik tadi yang kami sampaikan sebelumnya," katanya.

Prabowo kemudian memastikan luas lahan yang masih terbakar dari tujuh titik tersebut.

"Jadi dari 16.000 hektare yang terbakar, sekarang tinggal 900," kata Prabowo.

"900 hektare," jawab Edy.

Asap tebal akibat karhutla di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau. Foto: Dok. Istimewa

Prabowo mengapresiasi penanganan karhutla yang telah dilakukan jajaran di Riau.

"Dari Januari sampai Agustus, saya kira cukup bagus itu. Saya terima kasih," ujar Prabowo.

Prabowo meminta tujuh titik api yang masih tersisa segera ditangani. Dia juga meminta TNI dan Polri dikerahkan untuk mempercepat pemadaman.

"Saya kira ini cukup membanggakan ya, kalian mengatasi 15.000 hektare. Ah, ini saya yakin yang 900 ini bisa segera," kata Prabowo.

"Kerahkan TNI-Polri ya, kerahkan kekuatan kita. Kalau Anda perlu tambahan bantuan segera laporan," lanjutnya.

Namun, Prabowo menekankan agar pemerintah tidak menunggu hotspot berkembang menjadi titik api. Menurutnya, tindakan pencegahan harus dilakukan sejak titik panas terdeteksi.

"Jangan nunggu sampai jadi titik api. Ya tolong ya, masuk ke titik hotspot itu. Segera aja masuk ambil tindakan dini," tegas Prabowo.

Prabowo kemudian menanyakan kemungkinan pembangunan sumur bor di lokasi-lokasi hotspot.

"Di tempat-tempat itu bisa dibikin bor air?" tanya Prabowo.

Edy menjawab pembangunan sumur bor dapat dilakukan dengan kedalaman sekitar 30 hingga 50 meter.

"Siap bisa Pak. Kedalamannya antara 30 sampai 50 meter itu bisa kita bikin," jawab Edy.

Mendengar hal tersebut, Prabowo meminta pembangunan sumur bor dilakukan di sekitar 300 titik hotspot.

"Segera aja di 300 titik langsung bikin bor air," tegas Prabowo.

"Ya langsung ke situ langsung bikin bor air. Begitu ada hotspot bikin bor air di situ. Jangan tunggu titik api," pungkasnya.