BPBD Sebut Ada 39 Desa Rawan Tsunami di Banyuwangi
·waktu baca 2 menit

Kabupaten Banyuwangi masuk zona merah wilayah yang berpotensi diterjang tsunami. Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, setidaknya ada 39 Desa/Kelurahan yang masuk zona rawan diterjang bencana tersebut.
Kasi pencegahan BPBD Banyuwangi, Yusuf Arif, menyebut hampir seluruh wilayah yang berada di pesisir berpotensi dilanda bencana tsunami. Hanya saja ada yang masuk kategori risiko sedang dan tinggi.
“Total ada 39 desa dan kelurahan yang rawan. Mulai dari ujung Kecamatan Pesanggaran yang paling selatan, maupun di Kecamatan Wongsorejo di utara,” katanya saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (3/6).
Menurut Yusuf, yang masuk kategori risiko tinggi meliputi wilayah yang berada di pesisir pantai selatan Banyuwangi. Di antaranya meliputi Kecamatan Pesanggaran, Kecamatan Siliragung, Kecamatan Purwoharjo, dan Kecamatan Tegaldlimo.
“Itu yang masuk kategori risiko tinggi. Sedangkan dari Kecamatan Muncar hingga Kecamatan Wongsorejo itu masuk kategori risiko sedang,” ungkapnya.
Menurut Yusuf, gelombang tsunami pernah menerjang Banyuwangi, tepatnya di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran pada tanggal 3 Juni Tahun 1994 silam. Peristiwa yang terjadi pada Jumat Pon itu, selain meluluhlantakkan bangunan juga mengakibatkan 229 orang meninggal dunia.
Sejak peristiwa inilah, kewaspadaan terhadap potensi bencana serupa terus dilakukan, baik melalui mitigasi bencana maupun kontingensinya. Salah satunya ialah dengan memasang system peringatan dini atau early warning system (EWS) di wilayah rawan bencana tsunami.
“Total EWS yang kita miliki sekitar 13 unit. Namun, yang masih berfungsi sekitar 9 unit saja. Lokasi yang aktif, ada di Sarongan yakni Pantai Rajekwesi satu unit, dua titik di Pantai Pancer. Kemudian, di Pantai Grajagan 1 unit, di Pantai Muncar ada 3, Pantai Blimbingsari satu unit dan di Kampung Mandar Banyuwangi Kota satu unit,” sebutnya.
Ketika EWS ini berbunyi sebagai tanda bencana datang, masyarakat bisa langsung bergegas untuk menyelamatkan diri dengan mengikuti rambu dan jalur evakuasi yang disiapkan. “Untuk rambu dan jalur hingga tempat evakuasi, alhamdulillah sudah kita siapkan,” ungkapnya.
“Artinya, ketika EWS ini berbunyi, masyarakat sudah tahu ke mana mereka harus menyelamatkan diri. Meski demikian, kita tentu berharap tidak terjadi bencana. Kami juga meminta masyarakat agar tetap tenang, meski tetap harus waspada,” tutupnya.
