BPOM: Ethambutol-Rifampicin Sulit Sembuhkan TBC, Vaksin BCG Kurang Efisien
·waktu baca 2 menit

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengungkap alasan mengeluarkan izin untuk uji coba vaksin TBC yang dikembangkan oleh pendiri Gates Foundation, Bill Gates.
Taruna mengungkapkan, Indonesia merupakan negara kedua terbanyak pengidap TBC setelah India. Namun, selama ini obat yang dikonsumsi para pengidap TBC kurang efektif.
"Karena selama ini pengobatan tuberkulosis kita lakukan dengan pemberian yang disebut dengan isoniazid atau INH, rifampicin, atau ethambutol," ujar Taruna kepada wartawan, Kamis (15/5).
"Gabungan ketiga obat ini, mungkin karena pemakaiannya sudah sangat lama dan membutuhkan waktu lama. Sehingga menyebabkan apa yang kita sebut dengan, kita belum bisa mengatakan itu resistensi, tapi kenyataannya seperti itu, susah sembuhnya," tambah dia.
Selain ketiga obat itu, lanjut Taruna, Indonesia juga masih menggunakan vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG) yang diberikan kepada anak. Namun, vaksin ini juga dinilai kurang efisien.
"Dulu ada BCG, BCG juga kurang efisien lagi sekarang," ungkapnya.
Oleh karena itu, Taruna menjelaskan, perlu ada suatu inovasi di bidang pengobatan TBC. Salah satunya pengembangan vaksin Bill Gates itu.
"Dengan penemuan teknologi baru ini, dengan hasil baru ini, kita berharap dampaknya akan bermanfaat bagi masyarakat kita di Indonesia yang menderita tuberkulosis tertinggi kedua di dunia," ungkap dia.
Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin untuk uji coba vaksin penyakit TBC yang dikembangkan oleh pendiri Gates Foundation, Bill Gates.
Izin itu dikeluarkan setelah sejumlah pakar yang tergabung dalam tim evaluasi obat independen melakukan penelaahan terhadap hasil uji preklinis, uji klinis fase 1, dan uji klinis fase 2, yang telah dilakukan sebelumnya.
Ia memastikan, vaksin yang akan diuji coba ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Namun, masih belum diketahui efikasi atau daya manfaatnya.
