BPOM Update Kaji Uji Klinis Vaksin TBC di Tengah Tingginya Kasus di RI

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BPOM, Taruna Ikrar saat memberikan keterangan usai konferensi pers di Kantor BPOM RI, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BPOM, Taruna Ikrar saat memberikan keterangan usai konferensi pers di Kantor BPOM RI, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan proses uji klinis vaksin tuberkulosis (TBC) masih berlangsung dan kini memasuki tahap pengolahan data dari berbagai negara. Keputusan terkait kelanjutan maupun hasil akhir uji klinis tersebut belum ditetapkan.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengatakan saat ini terdapat dua uji klinis TBC yang telah disahkan, mencakup pengembangan vaksin dan metode inhalasi.

“Iya. Khusus untuk uji klinis tuberkulosis, itu kita ada dua yang kita sahkan. Satu yang bersifat uji klinis tahap satu untuk inhalasi produknya CanSino. Kemudian yang kedua yang produk yang berhubungan dengan vaksinasi yang Bill Gates. Iya. Nah, Bill Gates itu fase tiga,” ujarnya di Kantor BPOM RI, Jakarta Pusat, Rabu (8/4).

Pada tahun sebelumnya, BPOM telah memberikan persetujuan untuk pelaksanaan uji klinis fase 3 vaksin TBC yang dikembangkan oleh Bill Gates melalui Gates Foundation.

Ilustrasi Vaksin TBC. Foto: Shutterstock

Saat itu, BPOM menyatakan vaksin tersebut telah memenuhi berbagai persyaratan, termasuk aspek etik, saintifik, dan keamanan. Namun, efikasi atau tingkat kemanjurannya masih belum diketahui.

Ia menegaskan, BPOM belum dapat mengambil keputusan karena masih menunggu kelengkapan data dari uji klinis yang dilakukan secara multinasional.

“Dan sampai sekarang ini kita lagi memproses data-data yang sudah masuk tapi tentu belum kita putuskan karena kita masih menunggu eh beberapa data karena ini kan multi-center, bukan hanya untuk Indonesia tapi di beberapa negara lain. Kita tahu data untuk kita kan yang dibutuhkan dua ribu subjek, untuk Indonesia dua ribu. Dan itu sekarang proses,” jelasnya.

Taruna juga menekankan urgensi pengembangan vaksin TBC, mengingat tingginya beban kasus di Indonesia saat ini.

“Tapi intinya untuk tuberkulosis itu sangat penting karena kita adalah negara kedua tertinggi di dunia kalau berdasarkan jumlahnya. Tapi kalau berdasarkan densitasnya per seratus ribu penduduk kita yang tertinggi, kita kalahkan India," ujarnya

Konferensi Pers BPOM terkait Izin Penggunaan Vaksin Campak Untuk Dewasa di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

"Jadi saya kira ketersediaan vaksin tuberkulosis sangat penting bagi kita dan segera kalau hasilnya sudah tuntas kita akan umumkan,” tegasnya.

Sebelumnya, Perwakilan World Health Organization (WHO) di Indonesia, Setiawan Jati Laksono, menyebut Indonesia berada di peringkat kedua dunia setelah India dalam jumlah kasus TBC.

“Dari peta global, Indonesia berada di peringkat kedua setelah India. Delapan negara menyumbang sekitar 67% kasus TB dunia, dan Indonesia termasuk di dalamnya,” ujarnya pada Senin (6/4).