BPPT: Pertambangan Emas dengan Merkuri Harus Disetop

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mencatat 850 lokasi pertambangan emas skala kecil atau rakyat masih menggunakan teknik amalgamasi dengan menggunakan merkuri. BPPT menentang keras agar teknik tersebut ditinggalkan karena berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.
Direktur Pusat Teknologi Sumber Daya Mineral BPPT, Dadan M Nurjaman, mengatakan penutupan pertambangan emas yang menggunakan merkuri perlu ditutup secepatnya agar pencemaran lingkungan tidak semakin meluas.
"Kalau pertambangan menggunakan merkuri, tidak ada cara lain, harus di-cut," ujar Dadan, di gedung BPPT, Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (5/4).
Dadang menjelaskan, proses pembakaran merkuri akan menghasilkan uap merkuri anorganik. Menurutnya, uap itu akan sangat berbahaya apabila terhirup langsung oleh para penambang.
"Apabila terekspos ke udara maka radiusnya bisa mencapai 1 kilometer. Itu berbahaya untuk penapasan dan punya dampak jangka panjang," kata Dadan.

(Baca juga: Emas Poboya: dari Perut Bumi Hingga Dicampur Merkuri)
Dadan menilai, selain melalui udara, bahaya merkuri juga terjadi saat pembuangannya dilepas ke tanah. Menurut Dadan, dengan dilepaskan ke tanah, merkuri itu akan terdegradasi menjadi metil merkuri secara alamiah. Sehingga, nantinya akan diserap oleh tanaman dan makhluk hidup lain.
"Jadi makin terakumulasi. Ini kan bahaya kalau sudah masuk ke rantai makanan. Tanpa disadari, distribusi pencemaran merkuri ini sudah melebar ke mana-mana," ungkap dia.

Beberapa waktu lalu kumparan (kumparan.com) mengunjungi dua tambang emas liar yang para penambangnya biasa menggunakan merkuri. Kedua tempat tersebut adalah Gunung Botak di Pulau Buru, Maluku dan Bukit Poboya di Palu.
(Baca juga: Mengenal Penyakit Minamata, Kondisi Fatal Akibat Keracunan Merkuri)
Untuk di Gunung Botak, aparat sudah menutup lokasi tersebut untuk para penambang liar. Kini Gunung Botak steril dari para penambang yang biasa menggunakan merkuri.
Tahun 2014 sampai 2015 masih ada sekitar 50.000 orang bermukim di sana. Namun kini hal tersebut sudah tinggal cerita. Tenda-tenda penambang pun sudah dirobohkan oleh tim gabungan dari TNI dan Polri.
Sementara itu kondisi memprihatinkan masih terjadi di Poboya, Palu. Di sana masih ada banyak penambang yang mencari penghidupan.
Bahkan ada tempat menampung air minum yang lokasinya berada di antara lokasi tambang dan permukiman warga. Di sini juga ada satu titik dimana sianida dan merkuri dicampur kemudian menguap dengan bebas ke udara.
