BPPTKG: Gunung Merapi Memasuki Fase Erupsi 2021

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gunung Merapi difoto dari kawasan Kaliurang, Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu (18/11/2020). Foto: Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Gunung Merapi difoto dari kawasan Kaliurang, Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu (18/11/2020). Foto: Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut Gunung Merapi telah memasuki fase erupsi tahun 2021. Hal itu ditandai dengan munculnya lava pijar di kubah lava 1997 pada Senin (4/1) malam. Sebelumnya, Gunung Merapi telah mengalami erupsi pada 2018-2019.

"Jadi pada kemarin tanggal 4 Januari malam itu ada fenomena mungkin guguran lava pijar. Kemudian kita telusuri, kita pastikan apakah benar-benar lava pijar atau tidak, dan kita benar-benar bisa memastikan bahwa itu adalah lava pijar, api diam," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida melalui zoom dengan wartawan, Selasa (5/1).

"Bisa dikatakan Gunung Merapi memasuki fase erupsi Tahun 2021," ujar Hanik.

Kemudian, lanjut Hanik, berdasarkan pantauan CCTV dan thermalcam guguran yang terjadi merupakan guguran yang disebabkan desakan magma menuju ke permukaan.

Tangkapan layar penampakan cahaya di puncak Gunung Merapi pada malam pergantian tahun baru 2021. Foto: Dok. Istimewa

"Yang jelas guguran terus terjadi, yang penting intensitas material guguran ini, adanya indikator aktivitas magma menuju permukaan," katanya.

Meski sudah memasuki fase erupsi, Hanik menjelaskan, Gunung Merapi masih dalam proses awal ekstrusi magma. Sebab, berdasarkan data seismik, deformasi masih tinggi.

Selain itu, tambah Hanik guguran di Gunung Merapi masih terjadi. Sejak Senin (4/1), sudah terjadi 40 guguran di mana material tersebut bercampur antara lava lama dan baru.

"Kami masih harus (memantau), karena ini secara fisik magma baru yang atasnya masih ada material lama. Tapi kita harus perhatikan kalau berkembang (maka) ini kubah lava baru," ujar Hanik.

Hanik menegaskan, ada perbedaan erupsi pada Gunung Merapi yang terjadi pada 2021 dibandingkan dengan 2006. Letusan pada 2006, saat magma menuju permukaan, munculnya kubah lava diiringi gempa fase banyak (MP) yang masih meningkat. Sementara, deformasi dan vulkanik dangkal berhenti.

"Sekarang ada indikasi magma ke permukaan tapi vulkanik dangkal dan deformasi masih terjadi," ujarnya.

Meski begitu, erupsi 2021 ini diperkirakan tidak akan sebesar erupsi 2010. Hal tersebut berdasarkan data-data yang terus dipantau BPPTKG.

"Karakter merapi 2006 juga ada lava pijar ini memang merupakan karakternya Merapi jadi 2001, 2006 dan sekarang. Kalau 2010 memang adalah eksplosif yang ke atas ya eksplosif dengan VEI 4. Yang sekarang lava pijar dan sudah dimulai," katanya.

"BPPTKG tidak pernah menyatakan bahwa letusan ini lebih besar dari 2010. Mungkin ini berita yang selalu beredar, Insyaallah dari gejala, data yang ada itu tidak lebih besar dari 2010," katanya.

Saat ini status Merapi masih pada tingkat Siaga atau level III. Radius bahaya dari puncak Merapi masih 5 kilometer apabila terjadi erupsi eksplosif.

"Ancamannya mengarah ke barat-barat daya, namun tidak menutup kemungkinan ke arah bukaan kawah di Kali Gendol atau arah tenggara," pungkasnya.

embed from external kumparan