BREAKING NEWS: Indonesia Catat Kasus Pertama Cacar Monyet

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Cacar Monyet (Monkeypox) pada Anak. Foto: MIA Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Cacar Monyet (Monkeypox) pada Anak. Foto: MIA Studio/Shutterstock

Kementerian Kesehatan RI mengkonfirmasi kasus pertama cacar monyet pada Sabtu (20/8). Terdapat satu pasien yang terkonfirmasi.

"Pasiennya satu terkonfirmasi dari DKI Jakarta, laki-laki," kata jubir Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH, dalam konferensi pers.

Menurut Syahril, laki-laki berusia 27 tahun ini dikonfirmasi positif melalui hasil PCR pada Jumat malam. Syahril menyebut pasien itu mengalami gejala, tapi tidak berat. Seperti demam hingga ruam di beberapa bagian tubuhnya.

Syahril menjelaskan bahwa sebelumya sudah ada 23 orang yang diperiksa sebelumnya karena diduga kasus cacar monyet. Namun, hanya satu yang terkonfirmasi.

"Kesigapan petugas kesehatan Jakarta, RS-nya begitu tanggap ada gejala itu dengan cepat melakukan respons pemeriksaan lanjutnya dengan cepat dilakukan pemeriksaan PCR," ujar Syahril.

Ilustrasi Cacar Monyet (Monkeypox) pada Anak. Foto: Yulia Naumenko/Shutterstock

Wabah cacar monyet telah menyebar ke 86 negara di dunia pada 2022. Sudah ada sekitar 39 ribu kasus di seluruh dunia.

Mayoritas pasien cacar monyet berangsur pulih dalam dua hingga empat pekan. Namun, kelompok rentan menghadapi risiko yang lebih besar.

Kelompok tersebut termasuk anak-anak di bawah 8 tahun, orang dengan sistem kekebalan lemah atau riwayat eksim, dan orang yang sedang hamil atau menyusui.

Cacar monyet mendapatkan namanya lantaran pertama kali ditemukan pada sekelompok monyet laboratorium di Denmark pada 1985. Kendati demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, hewan pengerat adalah inang utama bagi virus tersebut.

Bagian dari jaringan kulit, diambil dari lesi pada kulit monyet, yang telah terinfeksi virus monkeypox, terlihat pada pembesaran 50X pada hari keempat perkembangan ruam pada tahun 1968. Foto: CDC/Handout via REUTERS

Otoritas kesehatan menekankan, semua orang berisiko tertular cacar monyet terlepas dari orientasi seksual mereka. Cacar monyet bukan merupakan penyakit menular seksual. Kontak seksual hanyalah salah satu rute penyebaran virus tersebut.

Penyebaran penyakit tersebut membutuhkan kontak dari kulit ke kulit yang berlangsung lama, termasuk berpelukan, berciuman, serta berbagi tempat tidur, handuk, dan pakaian.

Masa inkubasi cacar monyet membutuhkan waktu dari satu hingga dua pekan. Cacar monyet menimbulkan gejala seperti flu, demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Penyakit itu turut memunculkan ruam yang khas. Ruam umumnya dapat ditemukan di sekitar wajah, rongga mulut, serta telapak tangan dan kaki.

Infografik Waspada Cacar Monyet. Foto: kumparan

Ruam tersebut berkembang dari bercak kulit yang berubah warna sebelum membentuk benjolan, lepuh, dan jerawat besar berisi nanah yang akhirnya menjadi koreng dan rontok.

Wabah terbaru dapat menyimpang dari pola normal gejala-gejala itu. Sebagian pasien mungkin mengalami flu setelah ruam kulit, sedangkan yang lainnya tidak menderita gejala flu.

WHO menyarankan agar pasien membiarkan luka ruam hingga kering atau melindunginya dengan kasa pembalut. Sehingga, pasien tidak menyentuh luka secara langsung.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengungkap, obat antivirus terbukti efektif mengobati cacar monyet. Obat tersebut meliputi Tecovirimat, Cidofovir, dan Brincidofovir. Untuk kasus berat, WHO turut merekomendasikan vaksin Immunoglobulin (VIG).