BRGM Targetkan Tanam 11 Ribu Hektar Mangrove di 9 Provinsi Indonesia

19 Juli 2022 14:56
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Deputi Bidang Perencanaan dan Evaluasi BRGM KLHK. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Deputi Bidang Perencanaan dan Evaluasi BRGM KLHK. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) menargetkan penanaman 11 ribu hektar mangrove di 9 Provinsi Indonesia--Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua dan Papua Barat.
Penanaman 11 ribu mangrove itu, menurut Deputi Bidang Perencanaan dan Evaluasi BRGM, Satyawan Pudyatmoko, dilakukan untuk melanjutkan kerja yang sebelumnya dilakukan BRGM pada 2021 lalu, yang berhasil menanam hingga 35 ribu hektar mangrove di 9 Provinsi tersebut.
"[tahun] Kemarin 35.000 untuk BRGM di 2021, 2022 ini kita dapat dana dari APBN 11.000 hektar. 11.000 hektar yang baru, proses tahun ini kita lakukan tahun depan mungkin akan lebih banyak lagi," ujar Satyawan kepada wartawan, Selasa (19/7).
Ilustrasi menanam mangrove Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menanam mangrove Foto: Shutter Stock
Meski sudah memasang target besar untuk menyelesaikan penanaman 228.200 hektar kawasan mangrove di 9 provinsi pada tahun 2022, Satyawan mengatakan, hingga kini pihaknya belum memulai proses penanaman tersebut.
Penundaan itu, lanjut dia, dilakukan mengingat adanya ketidaksamaan musim buah mangrove antara satu Provinsi dengan Provinsi lainnya.
"Belum ditanam, kami masih nunggu. Karena nanem mangrove itu kan enggak bisa dilakukan setiap saat. Kita terutama menunggu musim buah mangrove yang di setiap tempat enggak sama," ucap Satyawan.
Untuk menghindari kerusakan akibat gelombang besar, Satyawan menuturkan pihaknya memasang target untuk segera melakukan penanaman mangrove sebelum akhir tahun. Sehingga, potensi kerusakan mangrove akibat terpaan gelombang besar dapat diminimalisir.
"Mungkin agustus kita mulai dan juga enggak boleh di akhir tahun soalnya ada gelombang besar. Mungkin Agustus, September, Oktober kita sudah mulai melakukan penanaman mangrove yang 11.000 hektar," ungkap Satyawan.
Taman Wisata Mangrove Angke. Foto: Bagus upc/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Taman Wisata Mangrove Angke. Foto: Bagus upc/Shutterstock

Ada Kerusakan di Penanaman Mangrove 2021

Kendati berhasil mencapai target penanaman mangrove di tahun 2021 yang menyentuh angka 35.000 hektar, Satyawan mengaku tak seluruh penanaman yang dilakukan pihaknya berhasil. Ia mencatat ada beberapa kerusakan penanaman yang ditemukan, utamanya di wilayah pantai timur Sumatera.
Bedanya, metode penanaman yang digunakan jadi alasan utama kerusakan penanaman mangrove itu terjadi.
"Iya banyak itu, terutama yang ada di pantai timur sumatera. Bukan banyak tapi ada. Kita kan pakai PEN, jadi kalau pake PEN itu. Kalau ilmu tanam menanam mangrove, rehab itu pertama ada yang namanya penanaman, penyulaman, dan ada pemeliharaan tahun pertama, kedua dan ketiga," ungkap Satyawan.
"Tapi kalau PEN karena fokusnya pemulihan ekonomi nasional, artinya masyarakat harus dapat cash money secepat-cepatnya, ini hanya one shoot. One shoot ini maksudnya hanya penanaman aja tapi nggak ada penyulaman dan pemeliharaan," lanjut dia.
Untuk memastikan kerusakan serupa tak terjadi kembali di rencana penanaman tahun 2022 ini, Satyawan memastikan pihaknya akan melakukan pemeliharaan bagi penanaman baru yang akan dilakukan per Agustus nanti. Sehingga solusi itu diharapkan dapat meminimalisir potensi rusaknya lahan yang ditanami mangrove.
"Meskipun dengan dana tahun ini selain kita ada penanaman baru akan ada pemeliharaan. Jadi nanti kita lihat kemungkinan besar yang bisa diselamatkan akan kita selamatkan. Dalam arti, tidak ada terjangan ombak, hanya mati karena kondisi ekstrem, itu akan kami tambahi lagi dengan bibit-bibit yang baru seluas 20.000 hektar," pungkasnya.