BRIN: Mikroplastik di Udara Dikhawatirkan Masuk ke Darah dan Jantung
·waktu baca 3 menit

Profesor Riset BRIN Muhammad Reza Cordova mengungkapkan partikel mikroplastik kini tak hanya ditemukan di laut dan tanah, tetapi juga di udara yang sehari-hari dihirup manusia.
Ia menjelaskan, jika ukurannya semakin kecil, di bawah 50 mikron bahkan seukuran partikel debu atau bakteri, mikroplastik berpotensi masuk ke peredaran darah dan jantung.
“Dampaknya terhadap tubuh manusia memang masih dalam tahap kajian. Namun, ada indikasi bahwa mikroplastik dapat menyebabkan iritasi atau peradangan,” ujar Reza dalam media briefing di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (24/10).
“Jika ukurannya semakin kecil di bawah 50 mikron, bahkan seukuran partikel debu atau bakteri maka mikroplastik berpotensi masuk ke peredaran darah, dan dari situ bisa menuju organ vital seperti jantung,” lanjutnya.
Ia menuturkan, mikroplastik di udara memiliki karakteristik seperti sponge bearing yang mudah menyerap zat lain di sekitarnya.
Artinya, partikel mikroplastik dapat menjadi media pembawa polutan lain, bahkan mikroorganisme atau virus, yang kemudian terhirup manusia.
Hasil penelitian BRIN sebelumnya mengungkap air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya yang berasal dari aktivitas manusia di perkotaan.
Temuan ini menjadi peringatan bahwa polusi plastik kini tidak hanya mencemari tanah dan laut, tetapi juga atmosfer.
BRIN mencatat, sejak 2022 mikroplastik sudah ditemukan di berbagai ekosistem mulai dari sungai, sedimen, hingga udara di sekitar pemukiman.
Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel hujan menggunakan rain gauge (alat penangkap hujan) untuk mengetahui seberapa banyak partikel mikroplastik yang jatuh bersama air hujan.
“Hasilnya kami publikasikan pada tahun 2022. Dari pengambilan sampel bulanan selama 12 bulan di wilayah Jakarta, kami menemukan bahwa mikroplastik memang terdeteksi di udara dan terbawa turun oleh hujan,” katanya.
Rata-rata jumlahnya berkisar antara 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari, dengan korelasi yang cukup jelas antara intensitas hujan dan jumlah mikroplastik yang terendapkan.
“Air hujan yang awalnya bersih ternyata bisa menjadi media pembawa mikroplastik. Dalam waktu sangat singkat, bahkan kurang dari satu detik, partikel-partikel plastik di udara bisa larut dan ikut terbawa air hujan,” jelas Reza.
Ia menambahkan, sumber utama mikroplastik di udara berasal dari pakaian sintetis seperti polyester dan nylon, serta plastik sekali pakai yang penggunaannya masih tinggi di masyarakat.
“Saya sering menyoroti hal kecil seperti ini, bahkan ketika kita diberi kue atau makanan ringan, masih sering dibungkus lapisan plastik. Padahal, kebiasaan sederhana itu berkontribusi besar pada jumlah limbah plastik yang berpotensi menjadi mikroplastik,” ujar Reza.
“Hasil sementara menunjukkan bahwa seluruh sampel udara mengandung mikroplastik, baik berukuran besar maupun kecil. Di Jakarta, tingkat kehadirannya masih dalam kisaran yang sama, yakni antara 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari,” kata Reza.
Menurutnya, fenomena mikroplastik ini merupakan isu yang relatif baru, secara global baru menjadi perhatian sekitar 20 tahun terakhir.
“Di Indonesia sendiri, penelitian soal mikroplastik baru berkembang sekitar 10 tahun terakhir, dengan kajian awal dimulai sekitar tahun 2015,” ujarnya.
Ia memastikan BRIN masih terus meneliti sejauh mana risiko mikroplastik terhadap kesehatan manusia, dan berkoordinasi dengan lembaga pemerintah seperti DLH DKI Jakarta untuk menindaklanjuti hasil temuan tersebut.
