Budidaya Maggot, Kurangi Sampah Organik dan Hasilkan Keuntungan

Sampah organik menyumbang setengah dari komposisi sampah di Jakarta. Sebanyak 53 persen sampah di Jakarta merupakan sampah organik.
Untuk mengurangi sampah organik ini, ada upaya yang bisa dilakukan masyarakat Jakarta, yakni dengan melakukan budidaya hewan larva atau serangga Maggot.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih mengatakan, Maggot bisa jadi solusi pengurangan sampah organik karena tak ada yang terbuang.
"Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta saat ini tengah membudidaya Maggot sebagai solusi atas banyaknya sampah organik di Ibu Kota. Bisa dibilang, Maggot adalah solusi paling potensial karena hasilnya tidak ada yang dibuang." ujar Andono, Selasa (17/11).
Dia menjelaskan, sejak berbentuk telur lalat, Maggot membutuhkan sampah organik untuk tumbuh selama 25 hari sampai siap dipanen. Adapun siklus dari larva menjadi Maggot hingga menjadi pupa membutuhkan waktu 40 sampai 44 hari.
"Maggot merupakan larva serangga Black Soldier Flies atau BSF yang dapat mengubah material organik menjadi biomassanya. Lalat ini berbeda dari jenis lalat biasa, karena larva yang dihasilkan bukan larva yang menjadi medium penyakit," jelasnya.
Dengan konsumsi sampah organik oleh Maggot ini, 1 kilogram Maggot bisa memangkas 2 hingga 5 kilogram sampah organik setiap harinya. Jumlah ini bisa membantu pengurangan sampah organik di Jakarta secara signifikan.
"Maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik 1-3 kali dari bobot tubuhnya selama 24 jam. Bahkan, bisa sampai 5 kali bobot tubuhnya," terangnya.
Setelah Maggot mati, bangkai Maggot bisa digunakan sebagai pakan ternak. Bahkan kepompong Maggot bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Sehingga tak menimbulkan sampah baru.
"Maggot yang sudah menjadi prepupa ataupun bangkai lalat BSF dapat digunakan sebagai pakan ternak karena kaya protein. Kepompongnya pun dapat dimanfaatkan menjadi pupuk," kata dia.
Maggot juga bisa dijadikan lini bisnis baru. Bagaimana tidak, setiap 100 gram Maggot kering bisa dijual seharga Rp 15.000-Rp 30.000.
Sejauh ini, budidaya Maggot sudah dilakukan di pesantren di kawasan Jakarta Timur. Dengan budidaya Maggot, reduksi sampah organik di pesantren itu dapat mencapai 400 kilogram dalam sehari.
"Para santri juga menggunakan Maggot sebagai pakan ternak mereka, seperti ikan dan ayam," ucapnya.
Dinas Lingkungan Hidup berharap banyak warga yang juga ikut membudidayakan Maggot demi mengurangi sampah organik di Jakarta. Lantas bagaimana cara budidayanya?
Berikut cara budidaya Maggot:
1. Siapkan kandang lalat BSF, tertutup dengan kawat/kasa dan pastikan tetap terkena sinar matahari, karena lalat butuh sinar matahari untuk kawin. Semprotkan air untuk menjaga kelembaban. Kamu bisa mengundang lalat BSF dengan membuat makanan yang disukainya, seperti mencampur bekatul, air, penyedap rasa, bioaktivator EM4, dan gula pasir.
2. Gunakan kardus, kayu, board (yang memiliki celah), untuk tempat lalat BSF betina bertelur.
3. Taruh telur di atas dedak yang dibasahi. Telur menetas dalam 3-4 hari.
4. Siapkan rak / biopond untuk tempat Maggot tumbuh dan mereduksi sampah organik.
