Buka Stadion dengan Kapasitas Penuh, Bagaimana Situasi COVID-19 di Hongaria?
·waktu baca 4 menit

Hongaria menjadi salah satu tuan rumah penyelenggaraan ajang sepak bola Euro 2020 yang sempat tertunda selama setahun lamanya akibat pandemi COVID-19.
Dari pertandingan yang digelar di 11 stadion yang berbeda di penjuru Eropa, Puskas Arena di Kota Budapest menjadi satu-satunya yang membuka arenanya dengan kapasitas penuh.
Dikutip dari AFP, pada laga Hongaria vs Portugal pada Selasa (15/6) lalu, stadion tersebut dipadati hingga hampir 68 ribu penonton tanpa ada aturan jarak sosial ataupun pembatasan ketat lainnya.
Ini tentunya menimbulkan pertanyaan, bagaimana situasi COVID-19 di Hongaria, apakah sudah tidak ada kasus lagi di sana? Mengapa Hongaria bisa melonggarkan pembatasan kegiatan mereka seperti itu?
Situasi COVID-19 di Hongaria
Hongaria merupakan salah satu negara di Eropa yang bisa dibilang sukses dalam menangani pandemi COVID-19 lewat vaksinasi yang cepat.
Total kasus corona di negara tersebut per Senin (21/6) adalah 807.630 kasus, menurut data global WHO. Negara ini berada di urutan ke-17 negara Eropa dengan kasus terbanyak.
Sementara, total kematian akibat virus corona ini mencapai 29.875 kasus sejak awal mula pandemi. Hongaria sendiri baru mencatat adanya kasus positif COVID-19 pertama pada awal Maret 2020.
Penambahan kasus harian pada Senin hanya mencapai 202, dengan kematian bertambah 9 orang.
Pandemi COVID-19 di Hongaria memang masih belum usai. Masih ada penambahan kasus serta kematian tiap harinya. Bahkan, pada Maret dan April lalu, tingkat kematian akibat COVID-19 di Hongaria merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, bersamaan dengan memuncaknya jumlah kasus harian hingga di atas angka 10 ribu per hari.
Tetapi, sejak Mei, negara ini mencatatkan tren penurunan yang signifikan, bahkan bisa dikatakan merosot dengan tajam.
Dikutip dari Graphic Reuters, tercatat hanya 6 infeksi per 100 ribu orang dalam sepekan terakhir. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa lainnya yang juga sukses dalam penanganan pandemi, seperti Belanda dan Denmark.
Belanda mencatat 34 infeksi per 100 ribu orang dan Denmark 30 infeksi per 100 ribu orang dalam sepekan terakhir.
Dengan menurunnya infeksi corona, maka Pemerintah setempat memutuskan untuk mencabut berbagai pembatasan kegiatan dan sosial ketat mulai akhir Mei lalu. Inilah mengapa Stadion Puskas diizinkan untuk dibuka untuk 68 ribu penonton.
Kini, hampir seluruh sektor perekonomian di Hongaria telah beroperasi, seperti bioskop, restoran, gym, hotel, spa, dan teater.
Penanganan Pandemi COVID-19 Hongaria
Hongaria pertama memberlakukan lockdown pada Maret 2020, beberapa pekan usai mereka mengidentifikasi kasus COVID-19 pertama. Sejak 27 April 2020, Pemerintah juga mewajibkan penggunaan masker bagi seluruh warganya.
Kebijakan tersebut mendapatkan perlawanan dan kritik keras dari berbagai pihak, tetapi akhirnya cukup berhasil menahan laju penyebaran COVID-19 hingga Juli 2020.
Tetapi, kasus mulai mengalami kenaikan secara signifikan pada Agustus 2020, sehingga perbatasan negara mulai ditutup bagi seluruh pelaku perjalanan internasional asing per 1 September 2020. Warga negara Hongaria yang masuk ke negara harus menyertai dua hasil tes COVID-19 negatif atau dikarantina selama 14 hari, seperti dikutip dari Euronews.
Mereka akhirnya memberlakukan lockdown lagi pada November 2020. Saat itu Hongaria menjadi salah satu negara di Eropa yang paling lambat dalam pemberlakuan pembatasan ketat di tengah semakin merebaknya wabah corona.
Dilansir VoA, Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, memberlakukan jam malam secara nasional, dari pukul 8 malam hingga pukul 5 subuh, dengan pengecualian mereka yang berangkat dan pulang kerja.
Tak hanya itu, pertokoan wajib tutup pukul 7 malam, restoran hanya menerima layanan pesan antar, pertandingan olahraga dilakukan tanpa penonton, perkumpulan keluarga dibatasi maksimal 10 orang, dan sekolah serta perguruan tinggi memberlakukan pembelajaran daring.
Kondisi lockdown parsial tersebut berlangsung hingga April 2021, di tengah-tengah memuncaknya kasus COVID-19. Tetapi, pada saat itu, Hongaria telah melaksanakan program vaksinasi mereka yang dapat dikatakan sebagai salah satu yang tercepat di Eropa.
“Hari ini, kita mencapai tonggak sejarah yang penting. Virus corona menyatakan perang kepada kita, dan satu-satunya senjaya yang bisa membawa kita pada kemenangan adalah vaksin,” ujar Orban pada 7 April, ketika mengumumkan pelonggaran lockdown.
Saat itu, Hongaria berhasil mencapai target vaksinasi sebanyak 2,5 juta dosis.
Vaksinasi COVID-19 Hongaria
Dikutip dari Euronews, Hongaria memulai program vaksinasi mereka pada 26 Desember 2020 untuk para tenaga kesehatan. Kemudian, pada Februari 2021, mereka memulai vaksinasi massal kepada seluruh warga negaranya yang sudah laik vaksin.
Saat itu, mereka menggunakan vaksin Sputnik V dari Rusia, menjadikan Hongaria sebagai negara Uni Eropa pertama yang menggunakan vaksin yang belum mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat-obatan Eropa.
Sejak itulah, vaksinasi massa Hongaria semakin cepat. Tak hanya menggunakan Sputnik V, mereka juga menggunakan vaksin Sinopharm dari China yang juga belum memperoleh izin penggunaan oleh Uni Eropa.
Graphic Reuters menunjukkan bahwa dalam sepekan terakhir, sekitar 86 ribu dosis vaksin disuntikkan kepada warganya per hari.
Hingga kini, sebanyak 9,2 juta dosis vaksin COVID-19 telah disuntikkan kepada negara berpenduduk 9,7 juta orang. Sekitar 4,4 juta warga, atau hampir setengah dari total populasi Hongaria telah divaksinasi secara penuh.
Bersamaan dengan percepatan vaksinasi itulah, kasus corona di negara ini merosot. Dari yang sebelumnya mencapai di atas 10 ribu kasus per hari, hingga kini hanya sekitar ratusan kasus dalam 24 jam.
Per 21 Mei 2021, PM Hongaria akan mencabut pembatasan kegiatan di negaranya ketika vaksinasi mencapai 5 juta orang. Penggunaan masker tidak akan diwajibkan, perkumpulan hingga 500 orang bisa dilakukan di ruang terbuka.
“Ini berarti kita telah mengalahkan gelombang ketiga pandemi,” ujar Orban.
