Bukber: Ajang Silaturahmi atau Pamer?
ยทwaktu baca 3 menit

Bulan puasa identik dengan berkumpul bersama saat berbuka puasa atau dikenal dengan buka bersama (bukber). Momen tersebut sekaligus dipergunakan untuk menjalin silaturahmi. Selain dengan keluarga, biasanya bukber dilakukan dengan rekan kantor, teman-teman sekolah, atau lingkaran pertemanan lainnya.
Di Indonesia, bukber sudah menjadi tradisi yang dilanggengkan. Namun bagi Adit, seorang karyawan swasta di Jakarta Selatan, bukber jadi hal yang dia hindari. Baru memasuki minggu pertama puasa, ia sudah menolak tiga tawaran bukber dengan rekan-rekannya.
Penolakan itu juga dilakukannya di tahun-tahun puasa sebelumnya.
Keputusan Adit bukan tanpa alasan. Empat tahun lalu, ia datang ke sebuah bukber sekaligus reuni teman-teman kuliah. Ada satu teman yang datang dengan seragam lengkap yang bekerja di salah satu perusahaan pelat merah.
Adit memperhatikan temannya itu meletakkan kunci mobil, dompet dan smartphone keluaran terbaru saat itu di meja makan. Temannya itu langsung menceletuk: 'Eh, lu pada kerja di mana sekarang?'
"Bukan 'Hai apa kabar?', bukber malah jadi ajang pamer jadinya," ungkap Adit kepada kumparan, Jumat (31/3).
Menghindar dari acara bukber juga dilakukan oleh Fiqri, pekerja di Jakarta, yang sudah 5 tahun tak lagi ikut-ikutan bukber.
Alasannya berbeda dengan Adit, Fiqri justru dikecewakan teman-temannya yang membatalkan acara tanpa berkabar.
Pada 2018, Fiqri dan enam orang rekannya telah berjanji untuk bukber di sebuah restoran di Jakarta Selatan. Ia pun telah melakukan booking, memesan sejumlah makanan, dan datang paling awal.
Namun, tiba-tiba pasangan dalam satu circle pertemanan itu bertengkar dan membatalkan diri.
Hal itu kemudian diikuti teman-teman lainnya, tanpa memberi kabar. Fiqri pun sampai menunggu sampai pukul 8 malam.
"Jadilah gue pulang dengan menanggung semua biaya minum payment dan makanan yang kebungkus karena gak abis. Setelah itu, sampai hari ini gak ada hasrat untuk bukber apalagi mengusulkan," ungkap Fiqri.
Sosiolog: Tradisi bukber di Indonesia banyak buat ajang pamer
Sosiolog yang juga pernah menjadi dosen di UGM, Soeprapto, mengungkapkan tradisi bukber yang dilakukan di Indonesia belum memiliki esensi yang jelas karena setiap pelaksanaannya memiliki motivasi yang berbeda-beda.
"Setahu saya tradisi buka bersama dan syawalan [halalbihalal] itu hanya di Indonesia," ungkap Soeprapto.
Ia menyebut, tidak sedikit yang menggunakan momen bukber untuk ajang unjuk diri atau bergabung dengan orang-orang dari kelas dan status sosial yang lebih tinggi.
Untuk memvalidasi bukber tersebut, orang-orang akan melakukan selfie dan mengunggahnya ke media sosial.
"Sementara itu jika buka bersamanya dengan kalangan internal, tidak sedikit yang kemudian berpenampilan glamor," ujarnya.
Soeprapto menambahkan, tindakan pamer saat bukber biasanya dilakukan oleh mereka yang tidak populer di kalangannya dan membutuhkan afirmasi.
"Untuk mereka yang saat buka bersama cenderung pamer, biasanya dilakukan oleh mereka yang merasa bahwa dirinya tidak populer di kalangannya sehingga butuh legitimasi atau pengakuan," ujarnya menandaskan.
Kalau kamu yang mana, bukber karena silaturahmi atau pamer diri?
