Bundaran HI Bertabur Cahaya Jelang Waisak, Warga Temukan Pesan Damai
ยทwaktu baca 4 menit

Menjelang perayaan Hari Raya Waisak pada 31 Mei 2026, wajah Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, tampak lebih berkilau dibanding hari biasanya.
Di tengah lalu lalang kendaraan, deretan instalasi seni bercahaya menghiasi kawasan tersebut.
Keindahan ini merupakan bagian dari gelaran bertajuk Illumination of Jakarta: Glow of Peace yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai rangkaian perayaan Waisak.
Instalasi itu terpampang dari 28 Mei hingga 1 Juni 2026. Puncak acara berupa pertunjukan seni dan hiburan akan berlangsung pada 29 Mei.
Sejumlah ornamen sudah tampak berdiri mengelilingi kawasan Bundaran HI pada Kamis (28/5) malam. Ada miniatur stupa berbentuk Candi Borobudur, patung-patung bernuansa Buddha, hingga dekorasi bercahaya yang menghiasi pohon-pohon.
Total terdapat sekitar 11 ornamen dan panggung utama yang dipenuhi lampu warna-warni. Sebagian instalasi telah menyala, sementara beberapa lainnya masih dalam tahap penyelesaian.
Di sela-sela aktivitas para pekerja yang masih memasang dekorasi, warga mulai berdatangan untuk melihat dari dekat sekaligus mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka.
Beberapa pengunjung terlihat berkeliling dari satu instalasi ke instalasi lain. Ada yang datang bersama keluarga, pasangan, maupun teman-teman. Mereka bergantian berfoto dengan latar ornamen yang berdiri di tengah ruang publik Jakarta itu.
Berharap Kedamaian
Salah satu pengunjung yang datang adalah Yellis (53), seorang umat Buddha yang sengaja menyempatkan diri melihat langsung instalasi Waisak di Bundaran HI. Ia datang bersama suaminya.
Yellis mengaku mengetahui informasi mengenai acara tersebut dari teman-temannya.
"Jadi semuanya nih jadi suatu penghargaan buat umat Buddha, ada kayak gini ya. Terharu juga sih, makanya disempat-sempatin kemari," kata Yellis saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, keberadaan instalasi tersebut memberikan kesan tersendiri bagi umat Buddha yang akan merayakan Waisak dalam beberapa hari ke depan.
"Iya, keren sih ya, keren. Cuacanya juga mendukung ya, nggak hujan," ujarnya.
Wanita yang tinggal di Jakarta itu mengaku baru pertama kali melihat perayaan Waisak dengan konsep instalasi cahaya di Bundaran HI.
"Iya, baru tahun ini. Karena baru ya. Iya, baru tahu. Memang tahun kemarin ada? baru tahun ini kan? Keren, keren, keren," tuturnya.
Bagi Yellis, kunjungan ke Bundaran HI menjadi bagian kecil dari persiapan menyambut Waisak tahun ini. Setelah itu, ia berencana melanjutkan perjalanan ke Magelang untuk mengikuti rangkaian perayaan di kawasan Candi Borobudur.
"Iya biasanya sih saya ada perayaan di Jakarta. Tahun ini lagi ada teman-teman ajak ke Borobudur, jadi ya ke Borobudur ya. Iya, lebih sakralnya kan di sana," kata dia.
Sejumlah kerabatnya bahkan telah berangkat lebih dulu menuju Borobudur untuk mengikuti rangkaian kegiatan menjelang puncak Waisak.
"Sebenarnya sih ada yang berangkat hari ini, ya pokoknya sampai puncaknya kan di hari Minggu. Nanti pulang ya tanggal 1 lah, kan libur juga ya, ada libur bagus ada libur juga. Pas di 1 Juni ya, Hari Pancasila," ucapnya.
Di tengah suasana perayaan tersebut, Yellis berharap Waisak dapat menjadi momentum untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
"Oh, harapannya ya kita semua damai ya hidupnya ya. Damai semuanya, lancar-lancar, usaha semua lancar. Semuanya juga kerja sama ya, menjaga persatuan. Kita jangan sampai terpecah-pecah ya, kayak negara lain. Semua agama di sini tuh patut dilindungi," kata dia.
Temukan Pesan Toleransi
Tak jauh dari salah satu instalasi bernama Pilar Asoka, salah seorang warga bernama Theo (69) berdiri sambil sesekali memperhatikan tulisan di dekorasi tersebut.
Theo mengaku awalnya datang bukan khusus untuk melihat instalasi Waisak. Ia hanya sedang menunggu seorang teman.
Theo merupakan warga asal Ambon yang besar di Papua sebelum akhirnya menetap di Jakarta. Kini ia tinggal di kawasan Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Malam itu, ia berangkat menggunakan Transjakarta dan tiba di Bundaran HI sekitar pukul 18.00 WIB.
"Saya naik busway tadi. Tadi jam-jam 6 lah," tuturnya.
Awalnya, Theo bahkan belum mengetahui adanya perayaan Waisak di kawasan tersebut.
Namun setelah melihat langsung instalasi, ia mengaku menangkap pesan yang menurutnya penting: toleransi.
"Saya senang, ternyata walaupun mereka Buddhis, saya Kristen, tapi bicara toleransinya bagus. Jadi jangan orang berpikir bahwa oh dia beda terus dia musuh kita atau apa, salah. Kita harus saling merangkul," ungkap Theo.
Menurut Theo, keberadaan dekorasi dan perayaan lintas agama di ruang publik menunjukkan upaya untuk mempertemukan warga dari berbagai latar belakang.
Ia menilai perbedaan agama, suku, maupun budaya seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.
"Buat saya sih bagus banget karena kita belajar jangan melihat bahwa baju saya warnanya bagus, kamu bagus, ini bagus, tidak. Tapi kita belajar melihat bahwa Tuhan itu cuma satu. Dan semua sepakat. Dia Maha Pengasih," katanya.
Baginya, pengalaman melihat berbagai perayaan keagamaan yang digelar di Jakarta dalam beberapa waktu terakhir memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat menjadi tempat bertemunya beragam kelompok masyarakat.
"Bagus. Gubernur ini dia memang menciptakan toleransi untuk semua itu bagus banget. Karena waktu Imlek saya datang saya lihat banyak ncik-ncik orang Cina juga hadir. Mereka enggak ada punya perasaan takut atau apa. Jadi saling menghargai. Natal juga yang datang Kristen, yang Lebaran yang Islam dan datang," katanya.
