Bupati Landak Karolin: Pusat Tolong Jangan Ribet-ribet Buat Aturan

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di sekolah.
 Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Foto: Shutter Stock

Bupati Landak Karolin Margaret Natasa mengungkapkan tanggapannya terkait rencana revisi UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Ia meminta pemerintah pusat untuk tidak membuat aturan yang menyulitkan pemerintah daerah.

Apalagi dalam bidang pendidikan, banyak aspek-aspek yang menyulitkan pemda untuk mengambil keputusan sendiri.

"Dan untuk pusat tolong kalau bikin aturan jangan ribet-ribet. Saya cuma harap anak-anak saya di sini lulus SD bisa baca saja saya udah senang, udah hebat buat saya," kata Karolin dalam diskusi virtual, Kamis (25/6).

Bupati Landak Karolin Margret Natasha di Desa Saham, Landak, Pontianak, Kamis (24/10). Foto: Achmad Rafiq/kumparan

Karolin yang sebelumnya menjabat sebagai anggota DPR Komisi IX mengaku tidak mudah menjadi kepala daerah karena sering berbenturan dengan pemerintah pusat. Apalagi, dalam beberapa kebijakan pemda harus mengikuti aturan pusat dan tidak bisa mengeluarkan aturan sendiri.

"Tapi setelah sampai di kampung jadi kepala daerah berhadapan dengan pemerintah pusat, kementerian ini ngatur, kementerian itu ngatur, anggaran 20 persen diatur. Terus kami ini ngapain? Enggak ada kebijakan yang kami buat. Apa yang mau direvisi orang itu aja belum bisa jalan," tuturnya.

Karolin juga menyinggung sulitnya infrastruktur pendidikan di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Khususnya di tengah pandemi virus corona, di mana murid harus belajar dari rumah untuk mencegah penularan virus corona di sekolah.

Salah satu dinding berlubang di SDN Samudra Jaya 04, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Ia mengungkapkan harus mencari solusi sendiri karena sulitnya sinyal di Kabupaten Landak. Hal itu menyulitkan terlaksananya pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring.

"Terkait pembelajaran daring, ini saya garuk-garuk kepala. Enggak ada sinyal bagaimana mau belajar daring? Saya akhirnya buat materi sendiri. Gurunya kami suruh bikin rekaman ala-ala ruangguru, lalu kami bagikan materinya ke anak di kampung walau harus saya telepon kadesnya," ungkapnya.

"Tapi enggak mudah. Saya berusaha, tapi saya enggak jamin bahwa ini akan sama situasinya dengan sekolah di gedung sekolah. Saya berusaha semaksimal mungkin agar anak-anak kita bisa belajar di rumah," pungkasnya.

embed from external kumparan

==========

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona. Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.